Breaking News
Selasa, 19 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Semarang

Dugderan Kota Semarang 2026 Siap Digelar, Ini Rangkaian Kegiatannya

Pemkot Semarang bersiap-siap menggelar tradisi tahunan Dugderan sebagai penanda datangnya bulan suci Ramadan.

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Idayatul Rohmah | Editor: deni setiawan
TRIBUN JATENG/Idayatul Rohmah
PASAR DUGDERAN - Persiapan Pasar Dugderan di kawasan Alun-alun Kauman Semarang, Jumat (6/2/2026). Pasar Dugderan berlangsung mulai 7 hingga 16 Februari 2026, dengan pembukaan simbolis oleh Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng. 

Pasar Dugderan berlangsung mulai 7 hingga 16 Februari 2026, dengan pembukaan simbolis oleh Wali Kota Semarang pada 7 Februari 2026.

"Harapannya pada 15 Februari 2026, khusus untuk area menuju Masjid Agung Semarang ini bisa steril agar lalu lintas bisa lancar," imbuhnya.

Penting diketahui, dugderan menjadi tradisi masyarakat Kota Semarang menyambut bulan suci Ramadan.

Prosesi dugderan dilaksanakan di tiga tempat yakni Balai Kota Semarang, Masjid Agung Semarang atau Masjid Kauman, dan Masjid Agung Jawa Tengah. 

Dugderan ini mengulang sebuah kegiatan atau rekonstruksi budaya yang terjadi pada 1881 silam.

Pada waktu itu, ada penetapan awal Ramadan berdasarkan rukyah. Dimana, saat itu belum ada teknologi. 

Tumenggung Aryo Purboningrat, Bupati Semarang kala itu, mempunyai inisiatif mengutus utusan khusus untuk melihat rukyah pada 29 Sa'ban.

Hasil rukyah tersebut disampaikan kepada para kyai di Masjid Agung Semarang yang dulunya bernama Masjid Besar Semarang

Mereka berkumpul mendengarkan hasil rukyah dari petugas khusus Kadipaten Semarang.

Ketika rukyah kelihatan, masuk ke puasa. 

Jika hasil rukyah menyatakan esok hari masuk bulan suci Ramadan, akan ditabuh beduk yang berbunyi dug-dug-dug di Masjid Agung Semarang.

Sementara, di Kadipaten, yang dulunya berada di Kanjengan, dinyalakan meriam berbunyi der-der-der. 

"Dulu, Kadipaten Semarang berada di Kanjengan. Makanya, dinamakan Kanjengan karena tempatnya kanjeng bupati. Di Kadipaten dibunyikan meriam yang berbunyi der-der-der. Jadi akronim bernama dugderan," jelasnya. 

Bunyi beduk dan meriam ini digunakan untuk mengumpulkan masyarakat di Alun-Alun.

Momen ini pun sangat ditunggu masyarakat sejak tanggal 28 Sa'ban. 

Banyaknya masyakat yang berkumpul memunculkan pasar malam yang dulu bernama magengan.

Saat ini disebut pasar malam dugderan.

Dulu pasar mulainya tanggal 28, 29, 30 Sa'ban, sekarang dimajukan 10 hari sebelum Ramadan," tambahnya. 

Budaya ini menjadi kearifan lokal yang dipertahankan dan dilestarikan. (*)

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 2/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved