Readers Note
Prima Trisna Aji: Ramadan dan Krisis Kesehatan Gaya Hidup Modern
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa puasa dapat membantu memperbaiki metabolisme tubuh, menurunkan kadar gula darah
Ramadan dan Krisis Kesehatan Gaya Hidup Modern
Oleh Prima Trisna Aji
Dosen prodi Spesialis Medikal Bedah
Universitas Muhammadiyah Semarang
BEBERAPA tahun lalu, seorang pasien laki-laki berusia sekitar 50 tahun datang ke layanan kesehatan dengan keluhan pusing dan jantung berdebar saat Ramadan. Ia mengaku tetap berpuasa setiap hari, bahkan tidak pernah meninggalkan salat tarawih.
Namun ketika diperiksa, tekanan darahnya mencapai angka yang sangat tinggi. Setelah ditelusuri lebih jauh, penyebabnya bukan karena puasa, melainkan karena kebiasaan yang justru meningkat selama Ramadhan: tidur hanya tiga hingga empat jam setiap malam, minum kopi berulang kali setelah berbuka, serta mengonsumsi makanan tinggi garam dan lemak hampir setiap malam.
Kisah seperti ini bukanlah cerita yang langka. Dalam praktik kesehatan, fenomena tersebut justru semakin sering ditemui. Ramadhan yang seharusnya menjadi momentum menata kembali keseimbangan tubuh sering kali berjalan berdampingan dengan perubahan gaya hidup yang kurang sehat. Puasa dilakukan dengan penuh semangat, tetapi tubuh justru menghadapi tekanan dari pola makan berlebihan, kurang tidur, dan tingkat stres yang tinggi.
Manfaat Puasa
Secara medis, puasa memiliki manfaat yang sangat besar bagi kesehatan. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa puasa dapat membantu memperbaiki metabolisme tubuh, menurunkan kadar gula darah, meningkatkan sensitivitas insulin, serta berpotensi menurunkan risiko penyakit kardiovaskular.
Banyak ahli bahkan menyebut puasa sebagai salah satu mekanisme alami tubuh untuk melakukan “reset metabolik”. Namun manfaat tersebut sangat bergantung pada bagaimana puasa dijalani dalam kehidupan sehari-hari.
Data Kesehatan
Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai laporan kesehatan global menunjukkan bahwa penyakit tidak menular menjadi ancaman utama kesehatan masyarakat modern. Laporan terbaru dari American Heart Asociation tahun 2025 menunjukkan bahwa penyakit tidak menular seperti hipertensi, penyakit jantung, stroke, dan diabetes menyumbang lebih dari 70 persen kematian di dunia.
Faktor risiko terbesar dari penyakit tersebut adalah gaya hidup tidak sehat: pola makan berlebihan, kurang aktivitas fisik, stres kronis, serta kualitas tidur yang buruk.
Situasi di Indonesia juga menunjukkan kecenderungan yang serupa. Data pemantauan kesehatan masyarakat oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia hingga tahun 2026 menunjukkan bahwa prevalensi hipertensi pada populasi dewasa masih berada pada tingkat yang tinggi. Selain itu, konsumsi gula masyarakat Indonesia masih jauh di atas batas rekomendasi yang dianjurkan untuk menjaga kesehatan jangka panjang.
Fenomena tersebut sering kali justru semakin terasa selama Ramadhan. Di berbagai daerah, tradisi berbuka puasa identik dengan konsumsi minuman manis, makanan tinggi karbohidrat, gorengan, dan hidangan berlemak. Tidak jarang, makanan yang dikonsumsi saat berbuka bahkan melampaui jumlah kalori yang biasanya dikonsumsi pada hari biasa.
Akibatnya, tubuh yang seharusnya mendapatkan kesempatan untuk memperbaiki keseimbangan metabolisme justru kembali menghadapi lonjakan gula darah dan asupan kalori yang berlebihan.
Gaya Hidup Modern
Perubahan gaya hidup modern juga memperburuk kondisi tersebut. Budaya begadang semakin lazim terjadi selama Ramadhan. Banyak orang menghabiskan waktu hingga larut malam untuk aktivitas digital, hiburan, atau pekerjaan yang tidak mengenal batas waktu.
Kurang tidur memiliki dampak kesehatan yang tidak kecil. Penelitian medis menunjukkan bahwa kurang tidur dapat meningkatkan hormon stres, mengganggu regulasi metabolisme, serta meningkatkan risiko tekanan darah tinggi. Dalam jangka panjang, kombinasi antara kurang tidur, pola makan tidak seimbang, dan stres psikologis dapat memperburuk kondisi kesehatan, terutama pada individu yang sudah memiliki penyakit kronis.
Padahal, dalam perspektif kesehatan, Ramadhan justru dapat menjadi kesempatan emas untuk memperbaiki kebiasaan hidup. Pola makan yang teratur antara sahur dan berbuka sebenarnya membantu tubuh mengatur ritme metabolisme dengan lebih baik. Puasa juga mengajarkan disiplin, pengendalian diri, serta kesadaran terhadap apa yang dikonsumsi. Namun manfaat tersebut hanya dapat dirasakan jika Ramadhan dijalani dengan kesadaran kesehatan yang baik.
Menahan Lapar
Ramadhan seharusnya tidak hanya menjadi bulan menahan lapar dan dahaga, tetapi juga momentum memperbaiki hubungan manusia dengan tubuhnya sendiri. Ada beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan masyarakat agar puasa benar-benar membawa manfaat kesehatan.
Pertama, mengatur pola makan yang seimbang saat sahur dan berbuka. Tubuh tidak membutuhkan konsumsi berlebihan setelah berpuasa seharian. Memulai berbuka dengan air putih dan makanan ringan seperti buah dapat membantu tubuh beradaptasi secara bertahap sebelum mengonsumsi makanan utama.
Kedua, membatasi konsumsi gula dan makanan tinggi lemak. Minuman manis memang menjadi bagian dari tradisi berbuka puasa, tetapi konsumsi yang berlebihan justru dapat memicu lonjakan gula darah. Mengganti minuman manis dengan air putih atau minuman alami dapat membantu menjaga keseimbangan metabolisme tubuh.
Ketiga, menjaga kualitas tidur yang cukup. Ramadhan bukan alasan untuk mengorbankan kesehatan melalui kebiasaan begadang yang berlebihan. Tidur yang cukup membantu tubuh menjaga keseimbangan hormon serta memperbaiki sistem kekebalan tubuh.
Keempat, tetap melakukan aktivitas fisik ringan. Jalan kaki, peregangan, atau olahraga ringan setelah berbuka dapat membantu menjaga kebugaran tubuh selama menjalani puasa.
Pada akhirnya, krisis kesehatan gaya hidup modern tidak hanya dapat diselesaikan melalui teknologi medis atau layanan kesehatan yang lebih canggih. Perubahan justru sering dimulai dari kebiasaan sederhana dalam kehidupan sehari-hari.
Ramadhan memberi kesempatan bagi refleksi tersebut. Ia mengajarkan manusia untuk menahan diri dari yang berlebihan, mengatur kembali ritme kehidupan, serta membangun kesadaran baru terhadap kesehatan tubuh.
Jika nilai-nilai ini benar-benar dihayati, Ramadhan tidak hanya menjadi bulan ibadah yang menenangkan jiwa, tetapi juga momentum penting untuk menyembuhkan tubuh di tengah tekanan gaya hidup modern. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/Prima-Trisna-Aji-Dosen-Unimus-Ahli-Bedah.jpg)