Tanoto Foundation
Lewat Dongeng dan Bermain, Anak-Anak Daycare Semarang Diajak Lepas dari Gawai
Kegiatan mendongeng ini merupakan bagian dari edukasi literasi yang mengangkat tema penggunaan gawai secara bijak pada anak.
Penulis: Idayatul Rohmah | Editor: M Syofri Kurniawan
"Merah!" jawab anak-anak serempak.
Cerita kemudian membawa anak-anak mengikuti petualangan Tora dan Tania yang pergi ke rumah nenek di desa. Ketika muncul tokoh ayam dalam cerita, Kempho tak hanya membacakan, tetapi juga menggambar seekor ayam di papan tulis hanya dari angka sembilan.
Anak-anak bersorak kagum saat gambar sederhana itu berubah menjadi ayam lengkap dengan kaki dan paruh.
"Suara ayam bagaimana?" tanya Kak Kempho lagi.
"Kukuruyuk!" jawab anak-anak sambil tertawa.
"Satu, dua, tiga, kukuruyuk!"
"Wah, ayam berkokok bersahut-sahutan."
Kegiatan mendongeng ini merupakan bagian dari edukasi literasi bersama Tanoto Foundation yang mengangkat tema penggunaan gawai secara bijak pada anak usia dini melalui buku "Misi untuk Raka". Buku ini merupakan buku keempat dari Seri Buku Cerita Anak SIGAP yang diterbitkan Tanoto Foundation berkolaborasi dengan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak serta Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.
Usai bercerita di depan anak-anak, Kak Kempho mengatakan, penggunaan ponsel pada anak kini menjadi perhatian karena sudah sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari, bahkan sejak usia dini.
"Ini menarik sekali, karena tampaknya anak-anak di sekeliling kita, di Indonesia ini, dari usia yang paling muda sudah pegang handphone dan beberapa kasus kita lihat kecanduan. Nah, ini tampaknya perlu edukasi sejak dini," ujarnya kepada Tribun Jateng.
Menurut Kak Kempho, bahan bacaan maupun media pembelajaran untuk anak harus disesuaikan dengan tahap perkembangan usia agar mudah dipahami sekaligus menarik perhatian mereka.
"Jadi memang sumber bacaan atau sumber pembelajaran untuk anak-anak harus menyesuaikan tingkat perkembangan usia anak-anak itu sendiri," katanya.
Ia menjelaskan, anak-anak usia kelompok bermain lebih tertarik pada buku dengan ilustrasi sederhana dan warna-warna cerah. Gambar dalam buku memiliki peran penting dalam membantu anak memahami cerita.
"Gambar bercerita itu menjadi buku yang sangat menarik buat mereka. Tentunya gambarnya harus juga memenuhi syarat. Misalnya gambarnya sederhana, jangan terlalu rumit. Kemudian warna-warnanya cukup menarik untuk mereka," ujarnya.
Selain visual, menurutnya, tulisan dalam buku anak juga harus sederhana dan tidak terlalu banyak agar anak lebih mudah mengikuti alur cerita.
| Dari Kotak Susu ke Tiket KA, Cara Guru SD di Patean Kendal Bikin Numerasi Jadi Menyenangkan |
|
|---|
| Inovasi Guru SD di Kendal, Ajak Murid Hitung Pengeluaran Rumah Pakai Metode Detektif Angka |
|
|---|
| Cara Seru Belajar Pencemaran Lingkungan Lewat Eco-Rotation, Inovasi Guru SDN Danawarih 03 Tegal |
|
|---|
| Sudiyanti Guru SMPN 2 Pangkah Tegal Ajak Murid Manfaatkan Minyak Jelantah Jadi Lilin Aromaterapi |
|
|---|
| Suasana Sekolah Lebih Hangat, Nur Aripiyah Kepsek SDN Gumalar 2 Tegal Hadirkan Strategi Lentera Hati |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/20260522_Pendongeng-Kempho-Antaka.jpg)