Rabu, 27 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Tanoto Foundation

Lewat Dongeng dan Bermain, Anak-Anak Daycare Semarang Diajak Lepas dari Gawai

Kegiatan mendongeng ini merupakan bagian dari edukasi literasi yang mengangkat tema penggunaan gawai secara bijak pada anak.

Tayang:
Penulis: Idayatul Rohmah | Editor: M Syofri Kurniawan
TRIBUN JATENG/Idayatul Rohmah
MENDONGENG - Pendongeng Kempho Antaka saat bercerita di depan anak-anak di Daycare Kota Semarang, Jalan Durian Raya, Pedalangan, Kecamatan Banyumanik, Kota Semarang, Kamis (21/5/2026). (Dok. Tanoto Foundation) 

"Tidak semua buku anak-anak cocok disampaikan, tetap harus ada filter. Jadi, sebelum kita sampaikan kepada anak-anak, kita harus membacanya dan memahami isi ceritanya," ujarnya.

Ia juga menyoroti pentingnya menghadirkan aktivitas tanpa layar gawai bagi anak-anak. Menurutnya, anak-anak sebenarnya memiliki energi besar untuk bergerak dan bermain aktif, tetapi perlahan mulai tergeser oleh kebiasaan bermain ponsel.

"Anak-anak itu kan kalau kita lihat sebenarnya mereka itu sosok yang energinya seperti tiada habisnya. Lari-lari, kemudian bergerak terus, moving terus. Nah, sayangnya sekarang aktivitas seperti itu sedikit demi sedikit kalah dengan yang namanya gadget," katanya.

Ia pun mendorong orang tua untuk lebih banyak terlibat dalam aktivitas anak, termasuk bermain dan membacakan cerita bersama di rumah.

"Ketika orang tua libur bekerja, nah ini manfaatkan untuk benar-benar menyatu dengan anak-anak. Anak-anak bermain, orang tua ya apa salahnya ikut bermain? Sehingga anak itu akan meninggalkan handphone," ujar Kempho.

Menurutnya, kehadiran orang tua dalam aktivitas sehari-hari anak menjadi salah satu kunci untuk mengurangi ketergantungan terhadap gawai.

"Maka kehadiran orang tua, keikhlasan orang tua menyatu dengan anak-anak, dengan kegiatannya, dengan membacakan cerita, dengan bermain bersama, itu akan menggerus keinginan mereka untuk sibuk hanya dengan handphone," imbuhnya.

Regional Lead Tanoto Foundation, Anang Ainur Roziqin, menjelaskan bahwa kegiatan mendongeng bersama anak-anak tersebut merupakan bagian dari program literasi dan stimulasi anak usia dini dari Tanoto Foundation.

Menurutnya, program itu sekaligus menjadi upaya mengurangi ketergantungan anak terhadap gawai melalui aktivitas bermain dan membaca bersama.

Pihaknya menilai penggunaan gawai pada anak usia dini kini menjadi perhatian serius karena durasi screen time anak semakin tinggi. Kondisi tersebut dikhawatirkan berdampak pada perkembangan interaksi sosial maupun emosional anak.

"Generasi kita saat ini, kalau kita lihat, menghabiskan waktu anak-anak kita tujuh jam per hari," ujar Anang.

Ia menjelaskan, anak usia dua hingga lima tahun rata-rata menghabiskan waktu dua hingga tiga jam di depan layar. Sementara secara keseluruhan, rata-rata screen time anak bisa mencapai sekitar tujuh jam per hari.

"Nah, dari situ kita melihat bahwa kalau ini dibiarkan terus-menerus, akan ada degradasi. Ada penurunan terkait dengan bagaimana anak-anak itu berinteraksi, karena kita tahu bahwa perkembangan optimal itu bukan dibentuk dari layar, tapi dibentuk dari interaksi," katanya.

Menurutnya, berbagai penelitian juga menunjukkan, screen time berlebihan dapat memengaruhi perilaku dan emosi anak. Tanoto Foundation, lanjutnya, mencoba menghadirkan alternatif aktivitas yang lebih interaktif melalui buku cerita anak.

"Makanya kita bagaimana supaya bisa mewarnai dunia anak, karena perkembangan anak yang optimal itu usia nol sampai tiga tahun. Maksimal lima tahun itu sudah harus tuntas perkembangan otaknya. Maka stimulasi-stimulasi ini jangan sampai lepas," ujarnya.

Salah satu upaya yang dilakukan yakni melalui buku cerita "Misi untuk Raka" yang dibacakan dalam kegiatan mendongeng tersebut.

Ia menceritakan, buku itu mengangkat cerita tentang anak bernama Raka yang terlalu asyik bermain gawai hingga perlahan diajak kembali ke aktivitas bermain bersama teman-temannya.

"Nah, akhirnya mereka membuat sebuah misi. Ada empat misi yang dimunculkan oleh Tania dan Tora ini. Pertama, misinya tentang bergerak. Terus kemudian yang kedua adalah terkait dengan berbuat baik. Yang ketiga terkait dengan membaca, dan yang keempat adalah berkarya," imbuhnya.

"Misi untuk Raka" tersedia dalam bentuk cetak dan dapat diunduh secara gratis melalui situs resmi Tanoto Foundation di www.tanotofoundation.org. (adv/idy)

Baca juga: Sulap Numerasi Lebih Asyik, Tanoto Foundation Dapat Apresiasi Pemkab Kendal

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 4/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved