Rabu, 27 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Tanoto Foundation

Lewat Dongeng dan Bermain, Anak-Anak Daycare Semarang Diajak Lepas dari Gawai

Kegiatan mendongeng ini merupakan bagian dari edukasi literasi yang mengangkat tema penggunaan gawai secara bijak pada anak.

Tayang:
Penulis: Idayatul Rohmah | Editor: M Syofri Kurniawan
TRIBUN JATENG/Idayatul Rohmah
MENDONGENG - Pendongeng Kempho Antaka saat bercerita di depan anak-anak di Daycare Kota Semarang, Jalan Durian Raya, Pedalangan, Kecamatan Banyumanik, Kota Semarang, Kamis (21/5/2026). (Dok. Tanoto Foundation) 

"Cerita yang ditampilkannya pun harus sederhana, menyesuaikan tingkat perkembangan mereka," kata Kak Kempho.

Dalam proses mendongeng, ia mengaku tidak hanya membacakan cerita, tetapi juga membangun suasana agar anak-anak merasa terlibat langsung.

Oleh karena itu, sesi bercerita biasanya diawali dengan ice breaking, bernyanyi, hingga permainan sederhana.

"Kalau proses bercerita untuk anak-anak, tentunya pertama kita akan mengoordinasi kelas atau mengoordinasi kelompok anak-anak itu sendiri. Kemudian diajak bernyanyi, diajak ice breaking, dan sebagainya," ujarnya.

Setelah suasana terbangun, cerita kemudian disampaikan menggunakan bahasa yang mudah dipahami anak-anak. Ia juga menghadirkan interaksi berupa tanya jawab maupun aktivitas yang berkaitan dengan isi cerita.

"Kemudian intinya yaitu bercerita, yang mana cerita itu sudah kita seleksi sesuai dengan tingkat perkembangan mereka dan tentunya cara penyampaiannya kita yang menyesuaikan mereka. Jadi, bahasa yang kita sampaikan harus bahasa yang mudah dimengerti oleh mereka," katanya.

Menurut Kak Kempho, mendongeng bukan sekadar hiburan sesaat. Ia melihat kegiatan bercerita sebagai salah satu cara menghadirkan pembelajaran yang menyenangkan sekaligus memperkuat komunikasi antara anak dan orang dewasa.

"Salah satu cara yang menyenangkan adalah berkomunikasi dengan mereka. Komunikasi yang mengasyikkan buat anak-anak adalah bercerita," ujarnya.

Meski demikian, ia menilai dampak kegiatan mendongeng tidak bisa dilihat secara instan. Menurutnya, budaya bercerita perlu terus dibiasakan, terutama di lingkungan keluarga.

"Nah, bercerita ini tidak bisa kok hanya satu orang sekali bercerita di depan anak-anak, lalu anak-anak berubah semuanya. Mungkin bisa satu dua anak terinspirasi dari cerita itu, tapi alangkah baiknya kegiatan bercerita itu menjadi budaya," katanya.

Ia menilai kebiasaan orang tua membacakan cerita di rumah dapat membantu anak mengenal kosakata baru sekaligus mempererat hubungan emosional dalam keluarga.

"Anak mendapatkan pembelajaran kosakata baru, artinya mereka belajar bahasa. Kemudian bonding dengan orang tua juga semakin erat karena komunikasi terus terjaga dengan baik dan menyenangkan," ujar Kak Kempho.

Selain itu, menurutnya, anak juga menjadi lebih dekat dengan buku sejak usia dini sehingga minat membaca bisa tumbuh secara alami.

"Kemudian yang tak kalah asyik adalah dengan buku yang dimanfaatkan untuk bercerita, anak-anak jadi dekat dengan yang namanya buku sehingga kelak mereka akan menjadi sosok-sosok yang gemar membaca tanpa harus dipaksa karena sejak kecil sudah diperkenalkan bahwa buku itu isinya menyenangkan," katanya.

Dalam memilih buku cerita anak, Kak Kempho mengingatkan pentingnya peran orang tua dan guru untuk melakukan penyaringan terlebih dahulu. Menurutnya, tidak semua buku dengan tampilan menarik otomatis sesuai untuk anak-anak.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 3/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved