Berita Pati
Kisah Mbah Wardi di Pati, 10 Tahun Tinggal di Gubuk Reyot Berdinding Spanduk Kampanye Politik
Mbah Wardi (68) bersyukur, gubuk reyot di Desa Mojo RT 5 RW 4, Kecamatan Cluwak, yang ia tinggali selama ini akan segera digantikan dengan rumah perma
Penulis: Mazka Hauzan Naufal | Editor: m nur huda
Ia bisa berjalan kaki hingga kecamatan tetangga, yakni Tayu dan Gunungwungkal untuk mengumpulkan sampah yang bisa ia jual kembali.
Setiap satu kilogram sampah yang berhasil ia kumpulkan, ia jual ke pengepul dengan harga Rp 2.500.
“Kalau pas banyak, saya bisa dapat 5-7 sak. Kalau sudah terkumpul 40 kilo, misalnya, baru saya jual. Tidak setiap hari saya memulung. Akhir-akhir ini sering hujan, saya tidak mulung,” tutur Mbah Wardi.
Ia mengatakan, selama ini, untuk makan sehari-hari, ia dibantu oleh adik perempuannya, Suparmi, yang tinggal tak jauh dari gubuknya. Setiap hari, Suparmi mengantarkan makanan untuk dia.
Mbah Wardi menyebut, selain Suparmi, ia memiliki dua saudara kandung lain. Satu orang tinggal di Sumatra dan satu lagi sudah meninggal dunia.
“Saya punya satu putri. Dia tinggal di Gunungwungkal, tapi jarang menjenguk. Dulu selalu tiap lebaran dan sedekah bumi dia selalu datang. Namun, empat tahunan belakangan ini ia tidak pernah ke sini,” kata dia.
Ia mengatakan, dirinya telah berpisah dengan sang istri. Namun, ia tidak mengurus perceraian di pengadilan.
“Sudah sekira lima tahun kami berpisah. Mau diresmikan (perceraiannya), saya tidak ada biaya,” ucap Mbah Wardi lirih.
Mantan istri Mbah Wardi kini tinggal di Desa Sampok, Gunungwungkal, bersama anak sulungnya bersama suami sebelumnya.
“Dia punya tiga anak dari suami lamanya. Sama saya punya satu,” tutur dia.
Mbah Wardi sangat berterima kasih kepada Baznas Pati dan semua pihak yang telah dan akan membantunya memiliki rumah yang layak huni.
Ia mengatakan, dirinya yang buta huruf tidak mungkin bisa mendapat sokongan dari berbagai pihak jika tidak ada yang membantu.
“Saya harap, setidaknya tiap saya pulang memulung, ada tempat berteduh yang tidak bocor kalau hujan, kemudian saya bisa merebus wedang (minuman hangat). Begitu saja saya sudah ayem (tenteram),” ungkap Mbah Wardi ketika ditanya apa yang ia inginkan dalam menjalani masa lansia.
Sementara, ketua Baznas Pati Imam Zarkasi mengatakan, pembangunan rumah layak huni bagi Mbah Wardi adalah kerja gotong-royong dari Baznas bersama banyak komunitas sosial.
“Kita kerjakan bersama. Apa yang kita punya, baik tenaga, pikiran, maupun dana, kita kerahkan secara bergotong-royong untuk membantu Mbah Wardi. Gotong-royong merupakan perintah agama.