Berita Internasional
Kemenangan Petinju Floyd Pernah Bikin Donald Trump Kesal, Wasit Dinilai Tak Adil
Donald Trump sebelum menjadi Presiden Amerika Serikat, memang dikenal sebagai penggemar tinju.
TRIBUNJATENG.COM - Donald Trump sebelum menjadi Presiden Amerika Serikat, memang dikenal sebagai penggemar tinju.
Dia dahulu pernah bekerja bersama Mike Tyson sebagai penasihat keuangan.
Selain itu, Trump juga kerap menyewakan tempat untuk melangsungkan pertarungan tinju besar di New Jersey, AS.

Sebagai penggemar tinju, Trump juga pernah kesal dengan hasil pertandingan tinju.
Kejadian itu bermula ketika Trump menyaksikan duel Floyd Mayweather Jr vs Marcos Maidana pada Mei 2014.
• TNI Gunakan Helm Canggih Pendeteksi Suhu Tubuh Berjarak 10 Meter Guna Cegah Covid-19
• Tim Mobil PCR Kelelahan Minta Libur Setelah 3 Hari Periksa Ratusan PDP Corona di Jatim
• Kapolsek di Rembang Dicopot Setelah Mobilnya Tabrak Rumah Warga Tewaskan Balita & Nenek
• Fakta dan Kronologi Intimidasi Agenda Seminar di UGM serta Tanggapan PP Muhammadiyah
• Baru Bebas dari Penjara karena Asimilasi, Pria Ini Malah Cabuli Anak Calon Istri
Kala itu, Trump belum menjadi presiden Amerika Serikat.
Dalam duel pertama tersebut, Mayweather sukses menjadi pemenang atas Maidana dengan majority decision.
Mengetahui Mayweather menjadi pemenang, Trump tidak terima dengan keputusan wasit.
Dia tak terima dengan hasil yang diperoleh Mayweather, padahal sering terkena pukulan.
"Floyd Mayweather dipukul habis-habisan di 10 ronde oleh Marcos Maidana, tetapi para penyiar berkata itu adil. Dua ronde tersisa," kata Trump dikutip BolaSport.com dari World Boxing News.
"Tidak mungkin. Wasit mengatakan menang. Investigasi harus dilakukan. Bertarung lagi? Keputusan kemenangan Mayweather itu aib," lanjutnya.
Setelah duel pertama dikritik, Maidana dan Mayweather kembali bertarung.
Mayweather menjadi pemenang lagi atas Maidana dengan unanimous decision pada September 2014.
Kerusuhan di Amerika
Kerusuhan di Amerika Serikat yang terjadi di Minneapolis, belum bisa dikendalikan aparat keamanan.
Presiden AS Donald Trump pun memerintahkan pengerahan ratusan tentara Garda Nasional, polisi militer Angkatan Darat, patroli federal guna mengatasi kerusuhan di kawasan tersebut.