Berita Internasional
Demonstrasi Besar-besaran Terus Berlanjut, PM Thailand Tolak Mundur
Aksi unjuk rasa besar tengah berlangsung di Bangkok, Thailand, sejak Kamis (15/10/2020). Aksi itu melibatkan sedikitnya 10.000 orang, kebanyakan maha
Dekrit ini juga memberikan kekuasaan yang luas kepada pemerintah, termasuk menahan orang tanpa dakwaan.
Sejumlah pemimpin protes telah ditangkap sejak keputusan itu berlaku.
Prayuth mengatakan, dekrit itu diperlukan karena ada kelompok tertentu yang bermaksud memicu insiden dan gerakan yang tidak diinginkan di daerah Bangkok.
Pada Jumat (16/10/2020), polisi menggeledah kantor Progressive Movement, sebuah kelompok yang dibentuk oleh mantan anggota parlemen dari partai politik reformis yang secara kontroversial dibubarkan oleh Mahkamah Konstitusi.
Sementara itu, pada hari yang sama, Kementerian Ekonomi Digital mengumumkan akan melaporkan lima akun Twitter dan lima akun Facebook yang dinilai menyerukan ajakan untuk bergabung dalam aksi unjuk rasa.
Mendobrak tabu
Dilansir dari The Guardian, Jumat (16/10/2020), gelombang protes terhadap pemerintahan Prayuth telah dimulai sejak Februari 2020, dipicu oleh pembubaran partai politik reformis Future Forward (kini Progressive Movement).
Namun, akibat pandemi virus corona, aksi unjuk rasa ditunda.
Aksi unjuk rasa yang baru-baru ini digelar, mendapat perhatian luas karena kritik terbuka terhadap monarki dan seruan reformasi Kerajaan Thailand.
Mereka mengkritik kekayaan raja, pengaruhnya di bidang politik, dan kenyataan bahwa Raja lebih sering menghabiskan sebagian besar waktunya di luar negeri.
Kritik tersebut dinilai mengejutkan, sebab Kerajaan Thailand adalah sebuah institusi yang dilindungi oleh undang-undang pencemaran nama baik, dan telah lama dianggap tidak tersentuh serta tabu untuk dibicarakan.
Gerakan protes ini dipimpin oleh mahasiswa dan siswa, tetapi telah menarik dukungan dari generasi yang lebih tua.
Tidak hanya keluarga Kerajaan, protes juga diarahkan kepada PM Prayuth Chan-ocha.
Protes itu dipicu terpilihnya Prayuth sebagai PM pada pemilu tahun lalu.
Sebelumnya, Prayuth adalah komandan militer yang memimpin kudeta pada 2014 dan berhasil menggulingkan pemerintahan yang dipilih oleh rakyat.
Para mahasiswa menilai, kesuksesan Prayuth kembali berkuasa lewat pemilu tahun lalu karena undang-undang yang telah diubah untuk memperkuat partai pro-militer.(*)
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Gelombang Protes Terus Berlangsung, PM Thailand Menolak Mundur"
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/massa-pro-demokrasi-menggelar-aksi-unjuk-rasa-menentang-dekrit-darurat-oleh-pemerintah-thailand.jpg)