Berita Internasional
Mengaku Sebagai Sahabat, Myanmar Minta India Serahkan 8 Polisi yang Kabur & Minta Suaka
India diminta mengembalikan delapan anggota polisi Myanmar yang kabur dari negaranya karena ingin meminta suaka.
RFA memberitakan, penyiksaan itu terekam oleh kamera CCTV dari kawasan permukiman di Okkalapa Utara.
Dalam video tersebut, nampak petugas medis diminta untuk berlutut dengan salah satu aparat melayangkan tendangan hingga pemukulan dengan senjata api mereka.
Dikutip AP Sabtu (6/3/2021), rekaman itu muncul setelah ada laporan aparat tidak hanya menahan pekerja medis.
Bahkan, mereka bertindak lebih jauh dengan menghancurkan peralatan kesehatan hingga menembaki relawan medis.
Bisa lebih buruk
Sejak aksi demonstrasi pecah pasca-militer melakukan kudeta pada 1 Februari, puluhan orang dilaporkan tewas.
Berdasarkan catatan PBB, setidaknya 54 orang terbunuh di berbagai kota Myanmar, dengan ribuan lainnya dipenjara.
Berbagai rekaman kebrutalan tentara dan polisi marak di media sosial, di mana ada demonstran yang ditembak dari jarak dekat.
"Kita berada di momen krisis," papar Bill Richardson, mantan Duta Besar AS untuk PBB yang punya pengalaman bertugas di Myanmar.
Upaya agar junta militer menghentikan kekerasan mendapatkan ganjalan dari berbagai kesempatan.
Di PBB, harapan dewan keamanan untuk menerapkan embargo bisa pupus jika China dan Rusia, dua sekuta utama Myanmar, memveto.
Sementara di Asia Tenggara, negara yang tergabung di organisasi Asean biasanya enggan mencampuri masalah internal tetangganya.
Karena itu, yang bisa mereka lakukan adalah berusaha agar junta dan pemimpin sipil Aung San Suu Kyi duduk semeja.
Karena itu, harapan untuk menekan Tatmadaw, kantor militer Myanmar, bertumpu pada sanksi negara Barat.
Sejauh ini, AS dan Inggris sudah menerbitkan sanksi untuk tiga jenderal dan sosok yang berada di lingkaran junta.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/polisi-myanmar-memegangi-pengunjuk-rasa-bersiap-memukuli-dalam-insiden-di-tharkata.jpg)