Berita Blora
Mengenal Sosok Purwanto Pengrajin Akar Kayu Jati Blora, Andalkan Pasar Lokal Selama Pandemi
Berbekal kecakapan berbahasa Inggris ala kadarnya, Purwanto dengan percaya diri menerima Miro Mrozik seorang tamu asal Kanada
Penulis: Rifqi Gozali | Editor: galih permadi
Memulai Tahun 2.000
Jalan panjang yang dilewati Purwanto sebagai perajin akar kayu jati bermula pada tahun 2.000.
Kelihaiannya dalam mengayunkan palu untuk dihantamkan pada pangkal pahat hingga menjadi karya ukiran berbahan akar kayu jati dilakoni secara autodidak.
Begitu juga saat dia merumuskan ide agar akar jati yang bentuknya tidak beraturan berubah menjadi furnitur meja kursi dengan bentuk artistik.
Sebelum dia benar-benar berdiri sendiri sebagai pelaku usaha akar kayu jati, Purwanto memang terlebih dulu bekerja untuk orang lain.
Di sekitar tempat tinggalnya, di Kecamatan Jepon, perajin yang memanfaatkan akar kayu jati sebagai bahan baku begitu banyak bak cendawan di musim hujan.
Termasuk di kecamatan sebelahnya: Jiken. Hal ini semakin membuat Purwanto menjadi bertekad bahwa lingkungannya mendukung untuk usaha.
Menyoal bahan baku, Blora yang hutannya dipenuhi pohon jati, baginya bukan hal sulit.
Stok persedian bahan baku selama dia butuh selalu tersedia.
Paling mentok, bahan baku dia datangkan dari Bojonegoro atau Tuban yang memang dua daerah tersebut wilayah hutannya masih serumpun.
Untuk satu akar jati, harga yang dibelinya bervariasi. Mulai dari Rp 50 ribu sampai jutaan rupiah.
Semua itu tergantung besar kecilnya bahan.
Sedianya, Purwanto juga memanfaatkan akar selain jati.
Misal akar mahoni, meh, atau sonokeling juga bisa dia sulap menjadi produk furnitur atau patung.
Setelah melewati proses produksi, akar-akar itu berubah menjadi patung yang memiliki nilai seni tinggi dengan harga yang bervariasi pula.
Mulai yang besarnya hanya sejengkal tangan orang dewasa yang harganya ratusan ribu rupiah sampai patung yang besarnya sampai dua meter yang laku dijual puluhan juta.
Untuk produk furnitur, acap kali dia memproduksi meja kursi.
Bahan dari akar kayu jati sejauh ini memang yang paling relevan diolah menjadi produk mebel adalah meja dan kursi.
Mengingat bahan dasarnya yang berbentuk tak beraturan.
Untuk satu set meja dan kursi, rata-rata Purwanto melepas dengan harga rata-rata paling rendah Rp 1,5 juta sampai Rp 2 juta. Bahkan dia pernah melepas harga satu set meja kursi Rp 60 juta.
Layaknya hukum pasar, harga baik patung maupun furnitur tentu menyesuaikan bahan baku dan tingkat kerumitannya. Sudah barang tentu harga yang ditentukan Purwanto adalah keputusan akhir setelah sebelumnya juga menghitung peluh yang dia keluarkan berikut para pekerja yang membantunya.
Saat ini Purwanto dibantu oleh empat orang pekerja. Bersama mereka, Purwanto siap melayani permintaan setiap pelanggan. Karena sebagai pelaku usaha, baginya pelanggan adalah segalanya.
Karenanya pula, dapurnya masih tetap mengepul dan periuknya pun urung terguling.(*)