Minggu, 3 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Lifestyle

Dianggap Buang-Buang Waktu, Melamun Ternyata Miliki Sejumlah Manfaat lho

Selama kita melakukannya dengan tepat, melamun dapat bermanfaat bagi kesehatan mental.

Tayang:
Shutterstock.com/ Lucky Business
ILUSTRASI MELAMUN 

TRIBUNJATENG.COM - Siapa orangnya yang tak pernah melamun?

Melamun dianggap sebagai kegiatan yang membuang-buang waktu dan tidak produktif.

Ketika melamun, seseorang kehilangan fokus dan tidak memerhatikan sesuatu di sekitarnya.

Baca juga: Putri Raja Solo Hari Ini Menikah, Ini Sosok Suaminya dan Komentar para Kerabat

Baca juga: Terlelap Tidur di SPBU Jalan S Parman, Pemilik Mobil Tak Tahu Komplotan Pencuri Datang Terekam CCTV

Baca juga: Warganet yang Sebut Bus PO Haryanto Tidak Ngeblong Lampu Merah Silakan ke Kantor Polisi Jadi Saksi

Baca juga: Kode Reedem FF Rabu 24 Maret 2021, Buruan Klaim Dapatkan Senjata Gratis di Gim Free Fire

Namun faktanya, kita lebih sering melamun daripada yang disadari.

Hampir 50 persen di hidup dihabiskan dengan melamun.

Temuan tersebut terungkap dari studi yang dilakukan dua peneliti Harvard di tahun 2010.

Pakar kesehatan mental menjelaskan segala hal yang berkaitan dengan kebiasaan melamun, termasuk manfaat yang bisa diperoleh dari melamun.

Apa sebenarnya melamun itu?

"Lamunan adalah fantasi atau gambaran mental tentang masa depan," jelas Gabriele Oettingen, PhD, profesor psikologi di New York University.

Dia juga penulis "Rethinking Positive Thinking: Inside the New Science of Motivation."

Di sela-sela rapat secara virtual dengan rekan kerja dan atasan, kemungkinan kita pernah memikirkan apa yang mau kita masak untuk makan malam nanti, atau memikirkan tagihan bulanan.

"Anda bisa melamun tentang masa lalu, apa yang terjadi di masa sekarang, tetapi kita sering melamun tentang masa depan," tutur Oettingen

"Lamunan adalah pemikiran dan gambaran bebas, tidak dibatasi oleh pengalaman kita."

Melamun maladaptif

Melamun dapat menjadi masalah saat kita mulai merenung atau mengkhawatirkan pikiran kita, dan itu dapat menyebabkan kecemasan dan depresi.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved