Ramadan 2021
Kisah Mbah Cungkrung dan Gambiran sebagai Pusat Penyebaran Islam di Pati
Amal menyebut, Mbah Cungkrung diyakini merupakan murid dari Sunan Muria. Disebutkannya, Mbah Cungkrung berdakwah dengan corak tasawuf
Penulis: Mazka Hauzan Naufal | Editor: muslimah
TRIBUNJATENG.COM, PATI - Gambiran adalah nama satu dukuh yang berada di Desa Sukoharjo, Kecamatan Margorejo.
Sejarawan setempat, Amal Hamzah, meyakini bahwa Gambiran dahulu merupakan pusat keagamaan Islam di Bumi Mina Tani.
Dia juga memiliki teori bahwa Masjid Baiturrohim Gambiran dahulu merupakan masjid utama di Pati, sebelum berpindah ke Masjid Agung Baitunnur di Alun-Alun Pati.
Syiar Islam di Pati yang berpusat dari Gambiran tidak terlepas dari sosok Mbah Cungkrung, yang makamnya terletak sekitar 30 meter di sebelah selatan masjid.
Tokoh yang diyakini sebagai waliyullah ini oleh masyarakat setempat diperingati haul-nya setiap 1 Syuro.
“Nama aslinya tidak diketahui. Adapun cungkrung kalau menurut orang Jawa diambil dari kata ‘jungkrung’ yang artinya ‘sujud’. Nama Mbah Cungkrung diambil dari kebiasaan beliau sujud dalam salat,” ujar Ketua Yayasan Baiturrohim ini, Senin (19/4/2021).
Amal menyebut, Mbah Cungkrung diyakini merupakan murid dari Sunan Muria. Disebutkannya, Mbah Cungkrung berdakwah dengan corak tasawuf.
“Karena Sunan Muria wafat pada pertengahan abad 16, Mbah Cungkrung juga berdakwah pada kisaran masa itu. Masjid Baiturrohim Gambiran dibangun oleh Mbah Cungkrung sebagai pusat syiar agama. Oleh warga setempat masjid ini juga disebut sebagai Masjid Wali,” kata Guru SMAN 1 Pati ini.
Amal mengatakan, Masjid Gambiran memiliki arsitektur kuno dengan atap limas bersusun seperti Masjid Agung Demak.
Struktur atap disangga oleh empat saka dari kayu. Memang bangunan asli masjid ini terbuat dari kayu, sebelum kemudian direnovasi menjadi tembok.
Penanda renovasi adalah sebuah prasasti bertuliskan aksara Arab Pegon yang terletak di atas pintu utama masjid. Dalam prasasti tersebut, dikatakan bahwa Masjid Gambiran direnovasi pada 1885 oleh Bupati Pati pada waktu itu, yakni Kanjeng Raden Aryo Candrahadinegoro.
“Dalam renovasi ini, mustoko atau kubah masjid berbentuk ngaron (tempat memasak dari tanah liat) diganti mustoko baru. Sedangkan yang lama dibawa ke daerah Tawung (Tawangrejo, Kecamatan Winong) oleh murid Mbah Cungkrung,” papar dia.
Amal menambahkan, berdasarkan keterangan yang dia dapatkan dari KH Hishom, ulama asal Desa Tawangrejo, agama Islam yang berkembang di Winong dahulu berasal dari murid Mbah Cungkrung.
Penanda “kekunoan” lainnya dari masjid ini, menurut Amal, ialah keberadaan kompleks makam keluarga penghulu, persis di sebelah utara masjid. Dilihat dari bentuk patoknya, sambung dia, diperkirakan makam tersebut ada sejak abad ke-16.
Bukti lain bahwa dahulu Gambiran merupakan pusat Islam di Pati, kata Amal, ialah keberadaan pemakaman Islam kuno di Dukuh Gambiran RT 01 RW 05.