Breaking News:

Ramadan 2021

Kisah Mbah Cungkrung dan Gambiran sebagai Pusat Penyebaran Islam di Pati

Amal menyebut, Mbah Cungkrung diyakini merupakan murid dari Sunan Muria. Disebutkannya, Mbah Cungkrung berdakwah dengan corak tasawuf

Penanda renovasi adalah sebuah prasasti bertuliskan aksara Arab Pegon yang terletak di atas pintu utama masjid. Dalam prasasti tersebut, dikatakan bahwa Masjid Gambiran direnovasi pada 1885 oleh Bupati Pati pada waktu itu, yakni Kanjeng Raden Aryo Candrahadinegoro.

“Dalam renovasi ini, mustoko atau kubah masjid berbentuk ngaron (tempat memasak dari tanah liat) diganti mustoko baru. Sedangkan yang lama dibawa ke daerah Tawung (Tawangrejo, Kecamatan Winong) oleh murid Mbah Cungkrung,” papar dia.

Amal menambahkan, berdasarkan keterangan yang dia dapatkan dari KH Hishom, ulama asal Desa Tawangrejo, agama Islam yang berkembang di Winong dahulu berasal dari murid Mbah Cungkrung.

Penanda “kekunoan” lainnya dari masjid ini, menurut Amal, ialah keberadaan kompleks makam keluarga penghulu, persis di sebelah utara masjid. Dilihat dari bentuk patoknya, sambung dia, diperkirakan makam tersebut ada sejak abad ke-16.

Bukti lain bahwa dahulu Gambiran merupakan pusat Islam di Pati, kata Amal, ialah keberadaan pemakaman Islam kuno di Dukuh Gambiran RT 01 RW 05.

“Makam yang cukup padat, seluas hampir 2 hektare ini, menunjukkan bahwa Gambiran dulu kota dengan banyak penduduk, atau kalau sekarang disebut metropolitan. Ada keyakinan, penduduk berbondong-bondong meninggalkan, sehingga makam luas ini tidak digunakan lagi. Hanya penduduk lokal yang memanfaatkan sebagian kecil area makam,” kata Amal sembari menunjukkan kompleks makam tersebut.

Menurut Amal, dilihat dari patok-patok kuburan yang berukuran besar dan terbuat dari batuan andesit, pemakaman kuno ini diperkirakan dimanfaatkan warga pada abad 16 sampai 17.

“Kita tidak tahu pada waktu itu berasal dari mana batunya. Namun, yang jelas bisa dipastikan ini pemakaman Islam. Tandanya, ada dua batu nisan, satu di utara satu di selatan, karena mayatnya dihadapkan ke arah kiblat,” jelas dia.

Amal menerangkan, pusat Islam di Pati mulai berpindah sejak Masjid Agung Baitunnur berdiri pada 1845. Letaknya yang berada di barat pendopo menjadikan masjid ini sebagai masjid besar kabupaten.

“Pendirian masjid ini membawa dampak besar. Para ulama Gambiran diboyong ke sana. Ada yang ditempatkan di Kauman, Saliyan, dan Kampung Mertokusuman. Ketika ulama-ulama Gambiran pindah ke Pati, masjid ini mulai agak sepi. Namun, atas kebaikan bupati pada waktu itu, 1885 masjid ini direnovasi,” jelas dia.

Halaman
123
Penulis: Mazka Hauzan Naufal
Editor: muslimah
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved