Forum Mahasiswa
OPINI Cahyo Dwi Kartiko : Metaverse Inovasi atau Ancaman?
KENAPA orang bisa menghabiskan waktu berjam jam hanya untuk menatap layar smartphone sambil melihat scrolling social media entah itu Instagram, Tik-to
Kemudian, dengan fakta bahwa banyak big tech telah masuk ke jajaran perusahaan paling kaya di dunia hanya dalam waktu dua dekade, tidak aneh jika banyak orang yang kemudian khawatir kekuatan ekonomi dan politik mereka dapat mengganggu tatanan negara. Apalagi, sampai saat ini negara msih kesulitan mengatur gerak-gerik para big tech.
Terkait hal ini, filsuf ekonomi asal Yunani, Yanis Varoufakis dalam video Capitalism has Become Techno-Feudalism mengenalkan konsep techno-feudalism untuk memperingatkan bagaimana perkembangan teknologi internet yang semakin tidak terpantau.
Tidak hanya mengancam perlindungan data pribadi, tetapi juga sistem ekonomi dan politik secara keseluruhan.
Ia melihat bahwa saat ini big tech semakin menunjukkan potensinya sebagai aktor monopoli ekonomi modern.
Yanis menilai, kemampuan teknologi luar biasa yang dimiliki para big tech tidak hanya membuat mereka menjadi aktor yang paling berkuasa di dunia maya, tetapi kekuatan tersebut juga bisa kapan saja dikapitalisasi menjadi sesuatu yang bisa menggoyahkan legitimasi negara sebagai entitas politik tertinggi.
Bagaimana tidak, mereka adalah garda terdepan dalam pengembangan teknologi siber.
Mereka memantau dan tahu secara langsung bagaimana informasi dapat mengubah atau membuat sebuah opini publik.
Terkait dengan Metaverse serta lingkungan ekonomi virtual, mereka menjadi penyedia “lahan” alias “tuan tanah”, yang tentu “harga” dan situasi kondisinya diatur oleh mereka sendiri.
Inilah modern version of feudalism.
Semua kekuatan yang dimiliki big tech ini sejalan dengan bagaimana feodalisme terjadi pada masa lampau. Dalam feodalisme klasik, para pemilik tanah dapat mempengaruhi kebijakan politik seorang raja.
Sementara dalam techno-feudalism, para elite big tech lah yang menjadi tuan tanah dunia virtual, layaknya sekelompok aristokrat yang mampu merundingkan, mengatur, dan bernegosiasi dengan otoritas negara.
Berbeda dengan kapitalisme, dalam techno-feudalism pasar didominasi oleh segelintir orang yang jumlahnya sangat sedikit, namun kuat tanpa tandingan.
Segelintir orang tersebut tidak hanya menguasai pasar, tetapi juga dapat menentukan perilaku pasar sesuai keinginan mereka.
Di sisi lain, profesor informasi dan teknologi dari Imperial College London, Jeremy Pitt, dalam tulisannya The BigTech Academia-Parliamentary Complex and Techno-Feudalism, mengatakan kekhawatiran utama dari techno-feudalism sesungguhnya adalah ancamannya kepada nilai kebebasan berpendapat di internet.
Big tech seperti Meta mampu mendistorsi proses agregasi informasi, yang pada akhirnya menggiring publik ke pemahaman yang keliru akan suatu isu.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/terlihat-di-layar-ceo-facebook-mark-zuckerberg-mengumumkan-nama-baru-mereka.jpg)