Forum Mahasiswa
OPINI Cahyo Dwi Kartiko : Metaverse Inovasi atau Ancaman?
KENAPA orang bisa menghabiskan waktu berjam jam hanya untuk menatap layar smartphone sambil melihat scrolling social media entah itu Instagram, Tik-to
Terkait hal ini, dalam bukunya yang berjudul Identity: The Demand for Dignity and the Politics of Resentment, Francis Fukuyama mengatakan bahwa sejak awal dikembangkan pada tahun 1990-an, banyak pengamat politik yakin internet akan menjadi kekuatan penting dalam mempromosikan nilai-nilai demokrasi.
Kekuatan
Informasi adalah kekuatan, dan jika internet dapat menjadi gerbang akses bagi orang-orang untuk memperoleh informasi, internet seharusnya menjadi simbol yang kuat bagi masyarakat negara demokrasi.
Namun sayangnya, internet telah menjadi alat untuk memobilisasi opini publik, bahkan identitas politik.
Teori konspirasi dengan bebasnya berseliweran di media sosial dan bahkan mampu mendapatkan penganut yang jumlahnya banyak.
Ini adalah sebuah distorsi terhadap realitas. Perkembangan sosial media menurut Fukuyama juga dapat memfasilitasi upaya untuk menodai dan bahkan merusak lawan politik dari seorang pejabat.
Dan anonimitas yang muncul akibat kemajuan teknologi dapat menghilangkan batasan sejauh apa pejabat tersebut berkeinginan merusak oposisinya.
Pada akhirnya, yang menjadi penguasa mutlak adalah para bos big tech.
Mereka mampu mendikte pemegang kekuasaan karena memiliki kendali penuh atas data yang ada di platform-nya. Mereka juga mampu mendistorsi memori manusia.
Skenario seperti inilah yang diperingatkan oleh filsuf Slovenia, Slavoj Žižek dalam Democracy and Capitalism Are Destined to Split Up.
Ia melihat bahwa bentuk sistem ekonomi yang dianut sekarang semakin tidak membutuhkan demokrasi karena para aktor yang terlibat dalam aktivitas politik dan ekonomi sadar bahwa opini publik akan lebih efisien dan efektif jika dijadikan hanya sebagai modal politik dan ekonomi.
Dari sini, kita bisa melihat bahwa Metaverse dan masa depan internet bukanlah surga bagi demokrasi.
Justru nilai demokrasi akan dimainkan untuk menjadi keuntungan pihak tertentu.
Metaverse akan menjadi salah satu simbol makin kuatnya techno-feudalism penundukan masyarakat pada feodalisme baru dengan para big tech sebagai aktor utamanya.
Jika demikian, apa yang harus kita lakukan. Bukannya kita hidup di dunia yang tak terbendung lagi dari sisi perkembangan teknologi informasinya?
Mark Baca Situasi
Kita lihat ke belakang 2 tahun ini, sudah semakin jarang bertemu dan bersosialisai secara fisik dengan kerabat atau teman teman kita karena adanya pandemic ini.
Bukannya berpikir bagaimana cara kita bisa segera mewujudkan hal tersebut metaverse malah semakin ingin membuat kita semakin menjauhi dari harapan kita tersebut.
Jika memang Mark perduli akan hal tersebut seharusnya dia menghapus facebook dari 10 tahun yang lalu.
Well, kita memang tidak bisa serta merta menyingkirkan keberadaan internet atau sosial media atau Metaverse atau apapun itu.
Mau tidak mau dan suka tidak suka, kita akan menjadi bagian dari gelombang ini. Namun, yang bisa kita lakukan adalah memilah-milah realitas yang akan kita hidupi.
Jangan sampai realitas hidup sehari-hari kita terdistorsi oleh Metaverse dan membuat kita terkungkung dalam ruang-ruang sempit hanya ditemani smartphone atau komputer semata.
Dunia nyata ini sangat indah dan luas untuk dieksplorasi. Karena seperti kata Nassim Nicholas Taleb: “Perbedaan antara teknologi dan perbudakan adalah bahwa para budak sadar sepenuhnya, mereka tidak bebas.
Sementara teknologi sebaliknya kita tidak menyadarinya dan malah menikmati perbudakan dari teknologi”. Gunakanlah teknologi dengan bijak dan jangan sampai kita diperbudak oleh teknologi. (*)
Baca juga: Setelah Dani Alves, Xavi Pulangkan Adama Traore ke Barcelona, Berikutnya Messi?
Baca juga: Hotline Semarang : Benarkah Kejadian Penyuntikan Vaksin Kosong di Kota Semarang?
Baca juga: Lansia Kelahiran Jepang Meninggal Setelah 7 Menit Hubungan Intim di Sarkem Yogyakarta
Baca juga: Fokus : Arisan Online
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/terlihat-di-layar-ceo-facebook-mark-zuckerberg-mengumumkan-nama-baru-mereka.jpg)