Selasa, 21 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Produsen Tempe Kendal Mumet, Harga Kedelai Impor Naik

Di sejumlah pasar tradisional Kabupaten Kendal, satu kilogram kedelai impor kini dibandrol Rp 11.000, naik Rp 500 dari harga sebelumnya Rp 10.500.

Penulis: Saiful Ma sum | Editor: Daniel Ari Purnomo
KOMPAS.com/RODERICK ADRIAN MOZES
Tempe, makanan asli Indonesia berbahan dasar kacang kedelai. 

TRIBUNJATENG.COM, KENDAL - Harga kedelai impor kembali merangkak naik di pasaran. 

Di sejumlah pasar tradisional Kabupaten Kendal, satu kilogram kedelai impor kini dibandrol Rp 11.000, naik Rp 500 dari harga sebelumnya Rp 10.500.

Tingginya harga kedelai impor yang terus merangkak naik dari harga Rp 8.500 per kilogram membuat perajin tempe di Kendal kelimpungan.

Apalagi, harga tempe di pasaran masih dibandrol dengan harga yang sama.

Mahfud Saefudin, perajin tahu dan tempe asal Desa Kebonharjo, Kecamatan Patebon, Kendal mengatakan, tingginya harga kedelai membuat dia mengurangi jumlah produksi beberapa kuintal setiap harinya.

Hal itu dilakukan untuk menghemat biaya produksi sebagai perajin tahu dan tempe sampai harga kedelai impor kembali stabil.

Menurut dia, tingginya harga kedelai membuat pendapatan para perajin tempe berkurang.

Mahalnya harga bahan baku tempe dalam beberapa bulan terakhir menjadi dilema bagi perajin.

Sebagian besar perajin memilih bertahan tanpa mengecilkan ukuran tempe.

Mereka juga tidak berani menaikkan harga tempe ke tengkulak atau pedagang larena khawatir bakal ditinggal konsumen.

Kondisi inilah yang membuat para perajin tempe atau tahu dilema antara mendapatkan untung atau tetap bertahan menjalankan bisnisnya meski terkadang menanggung rugi.

"Saya beli kedelai sudah Rp 11.000 per kilogram. Sejak kenaikan dulu, saya enggak berani naikin harga tempe atau mengurangi ukuran tempe saya. Pelanggan tidak mau kalau harga tempe naik," terangnya, Minggu (6/2/2022).

Mahfud pun hanya bisa mengurangi jumlah produksi untuk tetap bertahan sebagai perajin tempe dan tahu.

Meskipun harus menerima keuntungan yang tidak seberapa, bahkan terkadang merugi.

Ia berharap, pemerintah bisa membantu para perajin tempe dan tahu untuk menekan harga kedelai.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved