Berita Semarang
Wisata Kuliner di Semarang, Cara Generasi Ketiga Asem-Asem Koh Liem Pertahankan Cita Rasa
Asem-asem Koh Liem menjadi salah satu kuliner yang melegenda di Semarang.
Penulis: Idayatul Rohmah | Editor: galih permadi
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Asem-asem Koh Liem menjadi salah satu kuliner yang melegenda di Semarang.
Warung makan yang terkenal dengan sajian asem-asem daging sapi itu berdiri sejak tahun 1978, yang artinya tahun ini telah memasuki usia ke-44.
Eko Utomo merupakan cucu pendiri Asem-Asem Koh Liem (Piek Swie Liem) menjadi generasi ketiga yang kini mengelola warung kuliner dengan cita rasa khas tersebut.
Dia mulai mengelolanya sejak tahun 2013, dibantu ibunya bernama Suharti.
Baca juga: 3 Rekomendasi Mie Ayam Enak dan Murah di Banyumas, Ini Alamat Warungnya
"Saya generasi ketiga, dibantu mami.
Kalau mami saya generasi kedua," kata Eko di sela kegiatan demo memasak asem-asem daging bersama Modena dan sejumlah ibu PKK di lobi Mitra10 Semarang, Jumat (29/7/2022).
Sampai ke generasi ketiga, Eko mengatakan tetap mempertahankan keontetikan rasa asem-asem Koh Liem.
Asem-asem daging tersebut memiliki kekhasan rasa yang segar dengan campuran asem jawa, tomat, dan belimbing wuluh.
Sementara daging dan urat juga menjadi komponen yang tampak, di samping bubuhan cabai rawit merah utuh dan irisan cabai teropong merah yang mempercantik tampilan dan rasa pedas segar apabila mengunyahnya.
Untuk kuah, ditambahkan kecap untuk memberikan rasa manis.
Adapun rasa semakin kuat dengan resep rahasia yang diwariskan turun-temurun.
"Untuk mempertahankan cita rasa itu tanganan (tangan).
Jadi kita masak itu tanganan, turun-temurun kami yang dapat terus.
Kemudian kami tetap pakai cara tradisional, sejak dulu tidak ada perubahan.
Kalau orang mau daging dipresto, kami tidak," jelas dia kepada tribunjateng.com dalam mempertahankan cita rasa asem-asem Koh Liem.