Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Semarang

367 Sapi Positif LSD di Kota Semarang, Peredaran Daging Bakal Dibatasi

Jika diperlukan, Dispertan Kota Semarang akan memberlakukan pembatasan peredaran daging sapi dari wilayah yang terdapat kasus LSD. 

Penulis: Eka Yulianti Fajlin | Editor: deni setiawan
TRIBUN JATENG / EKA YULIANTI FAJLIN
Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (Dispertan) Kota Semarang, Hernowo Budi Luhur 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - 367 sapi di Kota Semarang positif terpapar Lumpy Skin Disease (LSD).

LSD merupakan penyakit hewan yang disebabkan oleh virus pox. 

Kepala Dispertan Kota Semarang, Hernowo Budi Luhur mengatakan, telah menerima vaksin untuk penanganan LSD.

Vaksin tersebut diberikan kepada sapi yang terpapar LSD. 

Saat ini, upaya pengendalian dilakukan mulai dari pemberian vaksin hingga penerapan biosecurity di kandang ternak.

Penerapan biosecurity akan terus dilakukan.

Bahkan, jika diperlukan, Dispertan Kota Semarang akan memberlakukan pembatasan peredaran daging sapi dari wilayah yang terdapat kasus LSD. 

Baca juga: Saya Deg-degan Besok Dihadiri Bu Mega, Cerita Mbak Ita Seusai Gladi Pelantikan Wali Kota Semarang

"PMK belum selesai, sekarang ada LSD yang juga menyerang sapi."

"Kami sudah lakukan upaya preventif sejak pertama kali ditemukan."

"Oleh Balai Besar Veteriner (BBVet) juga telah melakukan penanganan secara serius terhadap ternak yang terpapar," terang Hernowo kepada Tribunjateng.com, Minggu (29/1/2023). 

Menurutnya, kasus LSD di ibu kota Jawa Tengah saat ini merupakan gelombang kedua.

Sebelumnya, kasus LSD pertama kali ditemukan oleh BBVet.

Kasus ini ditemukan dari sapi yang berasal dari Kabupaten Kendal yang masuk ke Kota Semarang. 

Baca juga: Ini Peta Kerawanan Saat Pembentukan Pantarlih di Kota Semarang, Bawaslu: Dua Sisi Kami Awasi

Dia mengingatkan para pedagang agar berhati-hati dan memastikan ternak yang masuk ke Kota Lunpia adalah ternak yang sehat.

Biasanya, sapi-sapi di Kota Semarang berasal dari Kabupaten Boyolali, Grobogan, dan Blora.

Adapun sapi lokal berasal dari Kecamatan Mijen dan Gunungpati. 

"Kami kembali lagi untuk PPKM bagi ternak harus dilakukan."

"Vaksin sudah kami dilakukan dan efektivitasnya cukup bagus."

"Asal peternak melakukan biosecurity dan melakukan vaksinasi semoga bisa teratasi," terangnya. 

Baca juga: Profil Mbak Ita, Wali Kota Semarang Definitif Pengganti Hendrar Prihadi, Jadi Politikus Sejak 2016

Hernowo menyebut, ciri-ciri sapi yang terpapar LSD memiliki bintik-bintik di kulit hingga ke bagian kaki.

Meski ada beberapa ternak yang terpapar bintik-bintik tersebut tidak terlalu nampak.

Penyakit LSD ini tidak akan menular ke manusia.

Penularan hanya ke sesama ternak melalui perantara lalat atau kontak fisik langsung antar ternak. 

LSD mudah menyerang hewan ternak yang memiliki imunitas rendah dan kebersihan kandang tidak terjaga secara baik. 

“Memang tidak menular ke manusia, tapi dagingnya tidak layak konsumsi."

"Sebenarnya kalau dimasak secara benar memang bisa, tapi bentuk daging tidak mulus."

"Kalau sapi sudah sembuh, daging boleh dikonsumsi," jelasnya. (*)

Baca juga: 30 Pedagang Waiting List Jualan Saat CFD Kudus, Mayoritas Kaum Milenial

Baca juga: RSUD Ajibarang Kini Miliki Ruang Rawat Inap Standar BPJS Kesehatan, Bisa Layani 16 Pasien Kelas 3

Baca juga: Segini Target Pendapatan Sektor Parkir Jalan Umum di Kudus, Dishub: Tahun Ini Rp 1,36 Miliar

Baca juga: Sempat Bikin Panik, Ibu Melahirkan di Pos Pendakian Gunung Slamet, Alhamdulillah Keduanya Sehat

Sumber: Tribun Jateng
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved