Mayat Dicor di Semarang

UNGKAP Kasus Mayat Dicor di Semarang, Pakar Psikologi Undip: Ini Defensif Menghilangkan Jejak

Sesuatu dikatakan sebagai suatu agresi karena ditujukan untuk melukai bahkan merenggut nyawa orang lain secara sengaja.

Penulis: faisal affan | Editor: deni setiawan
TRIBUN JATENG/BRAM KUSUMA
Grafis mayat dicor di Semarang. 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Pembunuhan sadis yang terjadi di sebuah tempat usaha air isi ulang di Kecamatan Tembalang, Semarang membuat geger warga sekitar.

Pasalnya korban yang diketahui sebagai pemilik usaha air isi ulang tersebut, meninggal dalam kondisi dimutilasi dan tubuhnya dicor.

Pakar Psikologi Undip Semarang, Muhammad Zulfa Alfaruqy mengatakan, pembunuhan merupakan bentuk tindakan agresif seorang manusia.

"Sesuatu dikatakan sebagai suatu agresi karena ditujukan untuk melukai bahkan merenggut nyawa orang lain secara sengaja," ujarnya kepada Tribunjateng.com, Selasa (9/5/2023).

Baca juga: Hasil Autopsi Mayat Dicor di Semarang: Korban Digebuk di Bagian Kening Kiri Hingga Tembus Rahang

Baca juga: Inilah Sosok Rena Anggota Satlinmas Cantik di Kabupaten Semarang, Bertugas Sejak Usia 17 Tahun

Dia melanjutkan, secara umum seseorang melakukan perbuatan keji seperti melukai hingga menyebabkan kematian, disebabkan oleh dua motif.

"Pertama, motif afektif yaitu dorongan pembunuhan terhadap orang lain karena pembangkitan emosi."

"Misal rasa kesal, kecewa, dan marah pada orang lain."

"Kedua, motif kognitif yaitu dorongan pembunuhan terhadap seseorang karena ada tujuan yang ingin dicapai."

"Misal penguasaan terhadap harta orang lain," tuturnya.

Lokasi pembunuhan bos galon di depot isi ulang dan gas elpiji Jalan Mulawarman, Tembalang, kota Semarang, Selasa (9/5/2023). 
Lokasi pembunuhan bos galon di depot isi ulang dan gas elpiji Jalan Mulawarman, Tembalang, kota Semarang, Selasa (9/5/2023).  (Iwan Arifianto)

Adapun ketika seseorang melakukan pembunuhan dengan dimutilasi, perlu ditelisik lebih lanjut terkait motifnya tersebut.

"Namun, secara umum ada beberapa penjelas kasus mutilasi."

"Pertama dan paling dominan adalah karena tindakan defensif untuk menghilangkan jejak," tegas Zulfa.

Selain itu, tindakan kemarahan agresif yang membuncah juga bisa menjadi penyebab seseorang melakukan mutilasi.

"Berikutnya, tindakan sadisme yang erat kaitannya dengan gangguan psikologis."

"Jadi, perlu kehati-hatian dalam menyimpulkan sebuah kasus," pungkasnya. (*)

Baca juga: Program Magang 310 Taruna Poltekip di Lapas Nusakambangan Cilacap, Yuspahruddin: Ini Ibarat Mekkah

Baca juga: Wali Kota Tegal Dedy Yon Sampaikan 3 Isu Strategis dalam Rakorkomwil III Apeksi

Baca juga: Petugas Bea Cukai Kudus Dapati Bangunan Penimbun Rokok Ilegal di Jepara, Begini Muasal Terungkap

Baca juga: 1.535 Calhaj Kudus Jalani Bimbingan Manasik Haji Sebelum Terbang ke Tanah Suci

Sumber: Tribun Jateng
BERITATERKAIT
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved