BPJS Kesehatan Semarang
Berkat JKN, Suami Rochdilyanti Kini Sembuh dari Katarak
Rochdilyanti yang saat ini terdaftar sebagai Peserta Segmen Pekerja Penerima Upah (PPU), terbantu dengan dijaminnya operasi katarak sang suami.
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Rochdilyanti yang saat ini terdaftar sebagai Peserta Segmen Pekerja Penerima Upah (PPU), terbantu dengan dijaminnya operasi katarak sang suami.
Berawal dari pandangan buram yang sering dialami sang suami saat berkendara lintas kota, sang suami sering mengeluhkan karena sangat mengganggu tingkat konsentrasinya saat berada di jalan raya.
“Jadi suami itu sering bilang saat perjalanan malam hari, kena lampu jalan atau lampu kendaraan yang berlawanan arah bikin pandangan sangat buram, berulang kali mengeluh, saya antar ke dokter buat diperiksa,” ucapnya.
Baca juga: Selama Lebaran, Akses Layanan JKN BPJS Kesehatan Pekalongan Tetap Buka
Baca juga: Mudik Aman dengan JKN: BPJS Kesehatan Kudus Siaga Layani Peserta 24 Jam
Hasil pemeriksaan oleh dokter di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) menunjukkan jika suami menderita katarak yang sudah cukup tebal.
Dari awal Rochdilyanti sudah mengarahkan suaminya untuk memanfaatkan BPJS Kesehatan.
“Dokter di FKTP saya juga sangat proaktif."
"Dia memberi beberapa opsi untuk rujukannya untuk memilih di mana, mau yang paling dekat rumah atau dirujuk ke rumah sakit lain jika memang faskes terdekat sudah penuh."
"Menurut saya, BPJS Kesehatan bagus sekali karena memberikan opsi juga kepada kami,” tuturnya.
Seperti diketahui, Program JKN ini menerapkan sistem rujukan pelayanan kesehatan yang dilaksanakan secara berjenjang sesuai kebutuhan medis.
Menilik kemudahan akses dari tempat tinggalnya, Rochdilyanti memilih Candi Eye Center sebagai faskes rujukan sang suami.
Saat di faskes rujukan, secara tanggap dokter memeriksa kondisi mata suami Rochdilyanti secara detail.
“Dokter melakukan pemeriksaan di ruang diagnostik, mulai dari pemeriksaan awal untuk mengecek ketabalan katarak sudah berapa pakai semacam mikroskop, lalu pemeriksaan dengan membaca tulisan pada jarak tertentu juga,” tambahnya.
Waktu dicek penglihatannya, Rochdilyanti menuturkan, kemampuan mata sang suami sudah tidak mampu melihat, sehingga untuk memastikan kembali dokter mengecek ulang saat itu juga.
Selanjutnya diputuskan harus menjalani operasi.
“Dokter bilang melalui alat pemeriksaan, jika kornea mata suami juga sudah tidak bisa tembus cahaya,” ujarnya.
Kondisi katarak sudah tidak mungkin membaik jika hanya dilakukan melalui pengobatan farmakologi, sehingga opsi tindakan operasi disarankan oleh dokter.
“Di sini saya tidak ada kendala, bahkan tidak menunggu lama penjadwalan operasi tidak membutuhkan lama waktu tunggu,” tambahnya.
Baca juga: Cegah Klaim Fiktif, BPJS Kesehatan Tegal dan Kejaksaan Sosialisasi ke Manajemen Rumah Sakit
Baca juga: Peserta JKN Tetap Bisa Berobat! BPJS Kesehatan Siapkan Layanan Lebaran
Sebagai peserta JKN yang memanfaatkan pelayanan kesehatan di faskes, Rochdilyanti merasa tidak ada perbedaan pelayanan antara pasien umum dan pasien Program JKN.
Pelayanan dirasakan sangat cepat, petugas, dan dokter memberikan pelayanan dengan sangat ramah.
“Bahkan di sini saya juga tidak ada biaya, saya merasakan betul Program JKN ini sudah sangat bagus dibandingkan bertahun-tahun yang lalu."
"Terutama dari segi dokumen-dokumen saat ini jauh lebih ringkas jika perlu berobat ke faskes,” ucapnya takjub.
Terutama adanya Aplikasi Mobile JKN, Rochdilyanti sudah memanfaatkan berbagai fitur seperti KIS Digital, Skrining Riwayat Kesehatan, juga ubah faskes.
Menurutnya, aplikasi ini sangat memudahkan peserta JKN.
“Bahkan dengan aplikasi ini saya bisa mengecek keaktifan kepesertaan saya dan anggota keluarga saya."
"Mulai dari suami dan anak-anak, serta orangtua saya juga bisa saya cek,” ucapnya.
Rochdilyanti menuturkan, transformasi BPJS Kesehatan dari tahun ke tahun sangat membantu peserta lanjut usia.
Bahkan peserta bisa datang sendiri ke faskes, karena petugas di faskes sangat ramah, dan tanggap dalam membantu peserta.
“Kami sebagai pasien tidak perlu lagi ke sana ke mari, kalau bingung prosedur."
"Petugas mungkin sudah sangat memahami alur pelayanan program ini, jadi lebih efisien,” tambahnya.
Rochdilyanti merasa Program JKN harus selalu ada sampai kapanpun.
Jika dilihat dari nilai iurannya masih sangat terjangku dengan berbagai manfaat yang diterima peserta.
“Kedua, mungkin 1.000 orang yang sehat bisa mengcover 1 orang yang jatuh sakit parah, mungkin cuci darah yang butuh biaya tidak sedikit, itu bisa mengcover dari iuran yang terkumpul."
"Jangan hanya ingin bayar iuran untuk memanfaatkan, namun bayarlah iuran selain untuk berjaga-jaga, tetapi juga membantu yang lain,” tutupnya. (*)
Baca juga: Dana Iuran BPJS Kesehatan Apakah Bisa Dicairkan?
Baca juga: Cara Mencairkan Saldo BPJS Kesehatan yang Kelebihan Bayar
Baca juga: Kisah Panjang Musodah Warga Demak Berjuang Lawan Kanker, Untungnya Dibantu BPJS Kesehatan
Baca juga: Program Pesiar BPJS Kesehatan: Pastikan Seluruh Warga Semarang dan Demak Terdaftar JKN
Semarang
BPJS Kesehatan
BPJS Kesehatan Cabang Semarang
feature
Human Interest
operasi katarak
operasi katarak gunakan bpjs
Rochdilyanti
| Tingkatkan Standar Mutu Layanan, BPJS Kesehatan Cabang Semarang Lakukan Rekredensialing Faskes |
|
|---|
| Arief dan Keluarga Percayakan Sepenuhnya Jaminan Kesehatan pada Program JKN |
|
|---|
| Program Srikandi: Bukti Nyata Sinergitas Pemerintah dan Swasta Perluas Cakupan Kesehatan Semesta |
|
|---|
| Tingkatkan Lingkungan Sehat, BPJS Kesehatan Serahkan Bantuan OSR ke Dinas Lingkungan Hidup |
|
|---|
| Ingin Program JKN Terus Berlangsung, Ade Rai Motivasi Peserta JKN Terapkan Gaya Hidup Sehat |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/Operasi-Katarak-Gunakan-JKN.jpg)