Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Semarang

Dalam 30 Hari, IPAL Wajib Dibangun atau Izin Dicabut: Ultimatum DLH Usai Ribuan Ikan Mati di Terboyo

Kasus ribuan ikan yang mati mendadak di kawasan Tambak di Kelurahan Terboyo Kulon, Genuk, Kota Semarang.

Penulis: Raf | Editor: raka f pujangga
TRIBUNJATENG/Eka Yulianti Fajlin
PERIKSA PERUSAHAAN - Kepala DLH Kota Semarang, Arwita Mawarti mengatakan, DLH melakukan pemeriksaan terhadap perusahaan di kawasan Terboyo buntut matinya ribuan ikan di Terboyo. 

“Kalau dipegang itu berminyak. Minyaknya kalau di atas air kan kelihatan, misah,” tambahnya.

Rozikan dan para petambak sempat kebingungan harus berbuat apa. Dia mengaku langsung merekam kondisi tambaknya, lalu melapor ke Kelurahan dan KNTI (Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia). 

TAMBAK TERCEMAR - Rozikan (54)  satu dari beberapa petambak di kawasan Terboyokulon, Genuk, Semarang. Menunjukan tambaknya yang tercemar.
TAMBAK TERCEMAR - Rozikan (54)  satu dari beberapa petambak di kawasan Terboyokulon, Genuk, Semarang. Menunjukan tambaknya yang tercemar. (TRIBUNJATENG.COM/REZANDA AKBAR D.)

Air Mati Di Antara Monster Beton

Dirinya menduga, adanya minyak di kawasan tambak itu diduga dari satu diantara pabrik di kawasan industri Terboyo.

Mereka menduga dari perusahaan pengolahan minyak sawit sebagai sumber limbah. 

Namun, sejak pembangunan tol dan membendung lubang sirkulasi air laut di sekitar itu, menjadikan air yang menuju laut jadi terhambat.

Limbah yang sebelumnya mungkin langsung hanyut ke laut, kini mengendap, berputar-putar di area tambak yang tertutup monster beton. 

“Sekarang airnya muter aja di sini, enggak bisa keluar. Minyaknya kelihatan, seperti pelangi di atas air.” ujarnya.

Dari total 11 blok tambak di kawasan itu seluas sekitar 30 hektar lima blok paling parah. Total kerugian diperkirakan mencapai Rp250juta rupiah.

"Kerugian dua tambak yang saya kelola Rp100juta," katanya. 

"Kalau bisa, segera cairkan bantuan untuk petambak yang terdampak. Kami tidak menuntut lebih hanya ganti rugi yang layak agar bisa mulai lagi," tambahnya.

11 Tambak Terdampak

Sementara itu, Slamet Ari Nugroho, Ketua DPW KNTI Jawa Tengah menyebut potensi kerugian akibat pencemaran limbah di kawasan tambak tersebut, mencapai lebih dari Rp600 juta. 

Temuan itu didasarkan pada laporan dan asesmen lapangan yang dilakukan pihaknya pada awal Mei 2025.

“Total ada 11 bidang tambak yang terdampak, milik sembilan orang. Satu orang di antaranya mengelola tiga petak,” ujar pria yang akrab disapa Ari.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Jateng
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved