Rabu, 20 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

UIN SAIZU Purwokerto

Refleksi Tahun Baru Hijriyah: Hijrah dan Harakah sebagai Spirit Perubahan dan Pergerakan Umat

Refleksi Tahun Baru Hijriyah: Hijrah dan Harakah sebagai Spirit Perubahan

Tayang:
Editor: Editor Bisnis
Ist
Refleksi tahun baru hijriyah oleh Prof. Dr. H. Ridwan, M.Ag. Rektor UIN Saizu Purwokerto 

 

Oleh: Prof. Dr. H. Ridwan, M.Ag.
Rektor UIN Saizu Purwokerto

Tahun Baru Hijriyah bukan sekadar momentum seremonial tahunan, melainkan ruang reflektif yang menyimpan pesan mendalam tentang pergerakan dan perubahan.

Diskusi dan perdebatan ilmiah-akademik di antara para sahabat tentang kapan ummat Islam memulai penanggalan tahun barunya menyiratkan pesan tradisi intelektual yang hidup dalam masyarakat yang berkeadaban.

Ada sahabat yang mengusulkan dimulainya penanggalan Tahun Baru Hijriyah dari peristiwa lahirnya Nabi, hari wafatnya Nabi, penaklukan kota Makkah atau Hijrahnya Nabi. 

Memilih peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah menjadi penghitungan awal kalender tahun baru Islam memberikan pesan mendalam tentang prinsip gerak dalam kehidupan.

Gerak atau harakah menjadi penanda dasar bahwa manusia masih hidup dan kualitas kehidupan manusia juga ditentukan oleh kualitas gerakanya.

Pergerakan Nabi secara fisik dari suatu tempat (Makkah) ke tempat lain (Madinah) sejatinya juga menggerakan secara psikis-spiritual untuk sebuah cita-cita perubahan. 

Spirit dinamisme yang ada pada diri seseorang menjadi sumber energi penting yang melahirkan gagasan, perencanaan, dan pelaksanaan sebuah cita-cita besar.

Pergerakan Sinergis dan Kolaboratif

Terdapat narasi sejarah yang kadang tidak dibaca sebagai satu kesatuan peristiwa yang membentuk lahirnya peristiwa bersejarah hijrah yaitu suatu pergerakan kolektif yang bersifat sinergis kolaboratif diantara para aktor sejarah hijrah.

Hijrah sebagai sebuah Langkah besar, pasti digerakan oleh cita-cita besar, energi besar dan jiwa yang besar.

Proses hijrah tidak hanya melibatkan Nabi saja, tetapi generasi tua (senior) yaitu Abu Bakar sebagai pendamping setia Nabi, pemuda Ali bin Abi Thalib yang menggantikan posisi tidurnya Nabi, ada kaum perempuan yaitu Asma puteri Abu Bakar bagian suplay logistic.

Ada juga kelompok pengembala kambing yang bertugas menghapus jejak perjalanan Nabi agar tidak terlacak oleh kejaran kafir Quraisy dan juga peran orang non muslim Abdullah ibnu Uraiqith yang bertugas sebagai penunjuk jalan menuju Yasrib.

Gerakan Multi Varian

Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved