Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Blora

Tilachlidium brachiatum: Miko-Parasit di Balik Jamur Hutan Blora

DI balik keindahan jamur makroskopik yang mencolok, hutan-hutan di Blora, seperti Cagar Alam Bekutuk, juga dihuni oleh dunia jamur makroskopik

Editor: galih permadi
Budi Santoso dok
Tilachlidium brachiatum: Miko-Parasit di Balik Jamur Hutan Blora 

Oleh: Budi Santoso, PEH Muda pada BKSDA Jateng

DI balik keindahan jamur makroskopik yang mencolok, hutan-hutan di Blora, seperti Cagar Alam Bekutuk, juga dihuni oleh dunia jamur makroskopik. Meskipun sering luput dari pandangan mata telanjang, namun keberadaan jamur di dalam hutan kaya dengan fungsi. Salah satu contoh menarik dari fungi makroskopik ini adalah Tilachlidium brachiatum. Meskipun bukan jamur yang bisa dipetik dan diolah, keberadaannya sebagai parasit jamur (mycoparasite) menjadikannya pemain penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem jamur di hutan, menunjukkan kompleksitas jaring-jaring kehidupan yang tak terlihat.

Morfologi Mikroskopis yang Unik

Berbeda dengan jamur-jamur lain, Tilachlidium brachiatum adalah jamur mikroskopik yang tidak membentuk tubuh buah besar. Sebaliknya, ia adalah jamur kapang (mold) yang tumbuh sebagai benang-benang halus (hifa) yang menyebar di substratnya. Ciri khas yang membedakannya adalah struktur reproduktifnya yang unik. Ia membentuk konidiofor yang bercabang-cabang seperti pohon kecil atau tanduk dengan percabangan yang menyerupai lengan atau jari (brachiatum berarti "berlengan"). Di ujung percabangan ini, terdapat kepala-kepala kecil (capitula) yang menghasilkan spora aseksual (konidia).

Warna koloni Tilachlidium brachiatum biasanya putih hingga krem atau kekuningan. Meskipun ukurannya kecil, struktur ini cukup khas untuk dikenali di bawah mikroskop, dan menjadi kunci untuk identifikasi oleh ahli mikologi. Keberadaannya seringkali baru terdeteksi ketika ia ditemukan tumbuh pada jamur lain atau ketika diisolasi dari sampel lingkungan.

Peran Ekologis sebagai Mycoparasite: Penyeimbang Alami

Daya tarik utama dan peran ekologis Tilachlidium brachiatum terletak pada sifatnya sebagai mycoparasite, yaitu jamur yang memarasit atau menyerang jamur lain. Ini adalah bentuk interaksi ekologis yang menarik dan kompleks, mirip dengan predator-mangsa di dunia hewan, namun terjadi di antara dua spesies jamur.

Pengendali Populasi: Dengan memarasit jamur lain, T. brachiatum dapat berperan sebagai agen pengendali populasi alami. Dalam ekosistem hutan yang kaya akan jamur saprofitik (pengurai) dan mikoriza (bersimbiosis dengan akar pohon), populasi jamur-jamur tertentu dapat berkembang pesat. Kehadiran T. brachiatum membantu menjaga keseimbangan populasi, mencegah satu jenis jamur mendominasi terlalu jauh.

Daur Ulang Nutrisi Sekunder: Ketika T. brachiatum menyerang dan menguraikan sel inang jamurnya, ia turut berkontribusi pada daur ulang nutrisi di dalam ekosistem jamur itu sendiri. Ini memastikan bahwa nutrisi yang terperangkap dalam biomassa jamur dapat kembali ke lingkungan dan digunakan oleh organisme lain.

Indikator Ekosistem Sehat: Keberadaan mycoparasite menunjukkan jaring-jaring kehidupan yang kompleks dan sehat di dalam ekosistem. Interaksi semacam ini adalah bagian integral dari biodiversitas yang menjaga stabilitas dan resiliensi hutan.

Pentingnya Studi Fungi Mikroskopis

Meskipun Tilachlidium brachiatum tidak memiliki nilai ekonomi langsung seperti jamur pangan atau obat, studinya sangat penting dalam bidang mikologi dan ekologi. Memahami jamur yang kelihatan kecil ini membantu kita untuk;

Memahami Jaring-Jaring Makanan Fungi: Memberikan wawasan tentang bagaimana jamur berinteraksi satu sama lain dan perannya dalam ekosistem yang lebih luas.

Potensi Biokontrol: Beberapa mycoparasite telah digunakan sebagai agen biokontrol dalam pertanian untuk mengendalikan jamur patogen tanaman. Studi lebih lanjut tentang T. brachiatum dapat mengungkap potensi serupa.

Keanekaragaman Hayati Tersembunyi: Mengingatkan kita bahwa keanekaragaman hayati tidak hanya terbatas pada organisme yang terlihat besar, tetapi juga meluas ke dunia mikroskopis yang kaya dan belum sepenuhnya terpetakan.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jateng
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved