Tribun Jateng Hari Ini
Banyak Pelaku Usaha Sudah Menggunakan Transaksi Digital QRIS
QRIS sangat membantu kelancaran transaksi saat ramai pengunjung. Pembeli tidak perlu menyiapkan uang tunai, penjual tidak direpotkan uang kembalian.
Penulis: Indra Dwi Purnomo | Editor: Vito
TRIBUNJATENG.COM, KAJEN - Meski masih menghadapi sejumlah tantangan, penggunaan transaksi digital Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) semakin diminati para pelaku usaha.
Hal itu seperti terlihat pada pedagang kopi street di Kabupaten Pekalongan. Sistem pembayaran nontunai itu dinilai lebih praktis, cepat, dan aman, baik bagi penjual maupun pembeli.
Bahrul, pemilik kopi street REZ, mengatakan, QRIS sangat membantu kelancaran transaksi, terutama saat kondisi ramai pengunjung. Pembeli tidak perlu lagi menyiapkan uang tunai, sementara penjual tidak direpotkan dengan uang kembalian.
Menurutnya, penggunaan QRIS membuat proses pembayaran menjadi jauh lebih efisien dan memudahkan.
"Awalnya saya hanya menerima uang cash, tapi pelanggan saya selalu tanya, 'apakah ada QRIS?' Ketika belum ada, pelanggan saya suruh transfer ke bank," katanya, saat ditemui Tribun Jateng, di Jalan Raya Bojong-Kajen, pekan lalu.
Karena banyak pelanggan yang menanyakan, ia pun kini telah menyediakan QRIS untuk memenuhi permintaan layanan transaksi digital itu.
"Memang kalau pakai QRIS itu lebih praktis, tidak perlu cari uang kembalian. Pembeli tinggal scan, transaksi langsung selesai," ujarnya,
Selain itu, Bahrul menuturkan, QRIS juga dinilai dapat membantu pelaku usaha dalam hal mengelola keuangan.
"Catatan penjualan yang terekam secara otomatis memudahkan pemilik usaha memantau omzet harian dan bulanan, sehingga pengelolaan usaha menjadi lebih tertata," ucapnya.
Rina (28), pelanggan kopi street yang rutin menggunakan QRIS, menyatakan, pembayaran digital lebih nyaman dan cepat.
"Sekarang hampir semua pakai QRIS. Tinggal scan pakai ponsel, tidak repot bawa uang tunai, apalagi kalau nongkrong mendadak," tukasnya.
Persoalan
Senada diungkapkan Tari, pedagang di Pasar Bitingan Kudus. Ia sudah menyiapkan QRIS di lapaknya sejak 2024 secara inisiatif akibat sejumah persoalan dalam transaksi tunai.
Pada awalnya, semua transaksi di lapak dagang Tari menggunakan cash atau tunai. Persoalan muncul ketika pembeli lupa tidak membawa dompet, termasuk total nilai barang pembelian lebih banyak dari uang cash yang dibawa.
"Banyak yang awalnya tanya, 'bisa transfer nggak, bisa pakai QRIS nggak? Awalnya semua pakai tunai, pembeli yang lupa nggak bawa dompet nggak jadi beli, yang uangnya kurang jadi ngurangi belanjaannya. Kasihan kalau dibiarkan," tuturnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/20250910_qris.jpg)