Minggu, 24 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Tribunjateng Hari ini

Venezuela Lantik 5.600 Prajurit Anyar, bersiap Hadapi Perang Terbuka Lawan AS

Venezuela melantik 5.600 prajurit bersiap perang terbuka melawan militer Amerika Serikat (AS) yang terus melakukan tekanan di Laut Karibia.

Tayang:
Penulis: Yayan | Editor: M Syofri Kurniawan
TRIBUN JATENG
Tribun Jateng/Tri Susanto 

  • Venezuela melantik 5.600 prajurit baru sebagai respons langsung atas meningkatnya tekanan dan serangan militer Amerika Serikat (AS) di kawasan Karibia.
  • AS menyerang sedikitnya 22 kapal dan menewaskan 83 orang, serta menuduh Maduro memimpin jaringan teroris narkotika 'Cartel of the Suns', tuduhan yang dibantah keras oleh Venezuela.
  • Presiden Turkiye Recep Tayyip Erdogan meminta Venezuela tetap membuka komunikasi dengan AS agar konflik tidak berubah menjadi perang terbuka.

TRIBUNJATENG.COM, CARACAS – Militer Amerika Serikat (AS) masih terus melakukan serangan dengan menyasar kapal-kapal Venezuela di perairan internasional Laut Karibia. Pemerintah Venezuela pun merespons serangan-serangan AS dengan menambah kekuatan militer mereka.

Kiwari, Venezuela melantik 5.600 prajurit baru di Fuerte Tiuna, kompleks militer terbesar Venezuela yang berada di Caracas, pada Sabtu (6/12).

Pelantikan ini menindaklanjuti seruan Presiden Nicolas Maduro untuk memperkuat barisan militer, setelah AS mengerahkan armada kapal perang, termasuk kapal induk terbesar di dunia, ke wilayah Karibia dengan alasan memerangi perdagangan narkoba.

Baca juga: Latihan di Hutan, Inggris dan Sekutu Eropa Bersiap Perang Melawan Rusia

Baca juga: Militer Inggris dan Norwegia Buru Kapal Selam Rusia di Laut Atlantik Utara

Dalam kesempatan itu, Kolonel Gabriel Alejandro Rendon Vilchez menegaskan sikap tegas pemerintah terhadap potensi ancaman dari luar.

“Dalam kondisi apa pun, kami tidak akan mengizinkan invasi oleh kekuatan imperialis,” ujar Vilchez, dikutip dari AFP.

Berdasarkan data resmi, Venezuela saat ini memiliki sekitar 200.000 personel militer serta 200.000 petugas kepolisian tambahan.

Sementara itu, situasi memanas setelah pasukan AS dilaporkan melancarkan serangan mematikan terhadap sedikitnya 22 kapal, yang menyebabkan setidaknya 83 orang tewas.

Washington menuduh Presiden Maduro sebagai pemimpin 'Cartel of the Suns', sebuah jaringan yang bulan lalu secara sepihak ditetapkan sebagai organisasi teroris oleh AS.

Maduro membantah keras tuduhan tersebut. Ia menilai pengerahan pasukan AS bukan semata untuk memberantas narkoba, melainkan sebagai upaya untuk menggulingkan pemerintahannya dan menguasai cadangan minyak Venezuela, yang termasuk terbesar di dunia.

Serangan militer AS terbaru menargetkan sebuah kapal di perairan internasional, yang diklaim dioperasikan oleh organisasi teroris terdaftar.

Dalam pernyataannya di platform X, Komando Selatan AS menyebutkan bahwa intelijen mereka memastikan kapal tersebut membawa narkotika ilegal dan melintasi jalur perdagangan narkoba di kawasan Pasifik Timur.

Unggahan itu disertai video yang memperlihatkan kapal bermesin ganda melaju dengan kecepatan tinggi sebelum terkena ledakan dan terbakar.

“Empat teroris narkotika pria di atas kapal tersebut tewas,” tulis pernyataan resmi dalam unggahan tersebut.

Tuai kritik Kongres AS

Serangan tersebut turut disorot di dalam negeri AS. Para anggota parlemen bahkan mengikuti pengarahan tertutup di Capitol Hill, dengan menonton rekaman lengkap serangan yang hanya sebagian kecilnya dirilis ke publik.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved