Jumat, 22 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Horizzon

Kita yang Diperolok Iran 

Sekali lagi, perang di Iran kali ini juga menjadi pelajaran sekaligus fakta yang memperolok kita semua di Indonesia.

Tayang:
DOK
Ibnu Taufik Juwariyanto, Pemimpin Redaksi Tribun Jateng 

Oleh: Ibnu Taufik Juwariyanto, Pemimpin Redaksi Tribun Jateng

JARAK udara atau jarak peta antara Iran dan Indonesia tercatat sejauh 7.304 kilometer. Adapun jika dihitung jarak antara kedua ibukota negara, Teheran dan Jakarta, angkanya menjadi 7.413 kilometer. Jika dihitung dari jarak penerbangan, maka antara Indonesia dan Iran memiliki jarak delapan jam penerbangan tanpa henti. 

Secara fisik, jarak tersebut menurut saya boleh dibilang cukup jauh. Namun lantaran memanasnya suasana di Iran pascaserangan Israel yang bersekutu dengan Amerika, maka jarak kita dan Iran rasanya cukup dekat. Dekatnya jarak ini karena dampak perang Iran ada di depan mata kita. 

Satu yang sudah mulai kita rasakan adalah ketakutan akan krisis minyak bumi akibat peran Iran ini. Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, yang menyebut bahwa daya tampung cadangan minyak yang kita miliki hanya cukup untuk 20 hari, membuat kita menjadi semakin waswas. 

Fakta ini berbeda dengan Jepang yang mengeklaim bahwa mereka memiliki storage minyak yang mampu untuk 250 hari konsumsi dalam negeri. 

Berawal dari soal BBM ini, konsekuensi paling logis adalah kenaikan harga yang bisa dipastikan akan mengerek harga komoditas lainnya. Bisa dibayangkan jika ini terjadi, situasi ekonomi kita tentu menjadi masalah besar. Skenario dampak ekonomi ini tentu akan lebih jitu, jika kita melihat dari perspektif mereka yang memiliki basis bidang ekonomi. 

Saya lebih tertarik untuk mengambil sisi lain dari perang Iran yang menurut saya jauh lebih ‘menakjubkan’ untuk diceritakan. Ini tentang balasan Iran terhadap Israel dan simpul-simpul Amerika yang bertebaran di negara-negara Teluk. 

Iran yang diembargo Barat sejak meletusnya Revolusi Iran, pada 1979, ternyata diam-diam dan pasti sukses membangun pertahanan militer yang mengagumkan. Dan, itu dipertontonkan di mata kita. 

Kekuatan balasan yang ditunjukkan Iran bahkan membuat analis multinasional menjadikannya sebagai premis awal bahwa mustahil Amerika dan Israel bisa menundukkan Iran secara militer. Dengan kekuatan militer yang ditunjukkan oleh Iran, termasuk posisi geografis, geopolitik, serta dukungan politik dalam negeri memosisikan Iran akan menjadi jawaban sekaligus kuburan bagi kecongkakan Amerika dan Israel.  Dunia menyaksikan bagaimana persenjataan Iran, yang dibangun saat mereka dibelenggu secara ekonomi, mampu menembus pertahanan iron dome mahal milik Israel dan sejumlah pangkalan militer milik Amerika yang dipastikan canggih. 

Sekali lagi, perang di Iran kali ini juga menjadi pelajaran sekaligus fakta yang memperolok kita semua di Indonesia. Berita tentang perang Iran ini membuat kita paham berapa nilai persenjataan canggih yang terlibat di dalam perang Iran ini. 

Singkat saja, tidak untuk membandingkan antara kekuatan Iran, Israel, atau Amerika. Jika perang Iran ini masih boleh kita anggap sebagai workshop atau pameran persenjataan canggih, kita jadi tahu harga-harga dan label yang menempel di alat perang ini. 

Amerika Serikat memiliki 11 kapal induk canggih berbagai varian dengan tenaga nuklir. Satu kapal induk paling canggih berbanderol 13 miliar dolar AS atau setara dengan Rp 200 triliun. Untuk koleksi pesawat tempur, Amerika terdata memiliki 1.700 hingga 2.300 unit. Salah satunya adalah varian Lockheed Martin F-35 Lightning II, yang ternyata harganya tak lebih dari satu hari biaya MBG di negeri kita. Harganya sekitar 77,9 juta dolar AS atau sekitar Rp 1,12 triliun sampai Rp 1,9 triliun. 

Lompat ke Iran, yang mengoleksi sejumlah rudal balistik dan hipersonik. Rudal hipersonik Fattah-1 harganya 500 ribu dolar AS atau setara dengan Rp 7,9 miliar. Adapun rudal balistik Khorramshahr biaya produksinya sekira 8 juta dolar AS atau Rp 126 miliar. 

Mengintip sistem pertahanan iron dome yang dimiliki Israel, harganya dibanderol sekira 100 juta dolar AS atau setara dengan Rp 1,5 triliun. 

Pertunjukan ‘kembang api’ perang rudal di Timur Tengah ini bagi saya lebih daripada perang Iran, melainkan olok-olok terhadap negeri kita. Melihat “pameran persenjataan” dalam perang Iran tersebut, membuat saya yakin bahwa kita terlalu terbelakang. Istilah tersebut sejujurnya sebagai pengganti untuk menyebut kita terlalu bodoh, versi Rocky Gerung. 

Saya yakin, dengan pengelolaan yang benar, kita bisa mengambil perspektif bahwa harga-harga alutsista yang dipertontonkan di perang Iran ini sebenarnya merupakan harga yang sangat murah untuk Indonesia yang sangat kaya. Coba hitung berapa duit yang kita hamburkan atau kita korupsi. 

Yang nyata, kita membangun Monumen IKN yang sampai sekarang tak jelas telah menggerogoti duit APBN Rp 89 triliun. Jika dikonversi ini mungkin bisa setara dengan 50 jet tempur paling canggih koleksi Amerika. Biaya untuk membangun Monumen IKN ini, jika tidak didasarkan pada kebijakan bodoh, maka kita tak lagi punya cerita pertahanan udara kita hanya mengandalkan pesawat bekas yang tak dibekali amunisi. 

Terkini, coba hitung biaya untuk program Makan Bergizi Gratis, yang dibujet Rp 335 triliun. Jika ini dikalkulasi untuk lima tahun ke depan, sama artinya kita bisa membeli lima kapal induk secanggih milik Amerika.

Sekali lagi, saya harus mengatakan negeri ini layak malu dengan Iran. Saya membayangkan, kita punya emas di Freport, timah di Bangka, nikel di Sulawesi, batu bara di Kalimantan dan kekayaan alam lainnya yang kita tidak diembargo oleh siapa pun. Logikanya, dengan kekayaan yang kita miliki, rasanya Indonesia tak bakal serendah ini mentalitas militernya di mata dunia. 

Sayang, dominasi oligarki yang virusnya masuk hingga ke sendi-sendi kekuasaan di negeri ini membuat negeri ini terus teraniaya dengan korupsi. 80 tahun merdeka benar-benar telah memosisikan negeri ini terjajah oleh bangsanya sendiri. (*)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved