Readers Note
Dampak Psikologis Konsumsi Gula Berlebih pada Remaja
Makanan dan minuman manis telah menjadi bagian dari keseharian remaja, seolah tanpa risiko, padahal dampaknya tidak hanya menyentuh kesehatan fisik,
Dampak Psikologis Konsumsi Gula Berlebih pada Remaja
Tsaniatus Solihah, SE
Mahasiswa Magister Sains Psikologi Unika Soegijapranata
TIAP Januari Indonesia memperingati Hari Gizi Nasional sebagai momentum untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pola makan sehat. Namun, di tengah peringatan ini, konsumsi gula berlebih khususnya pada remaja masih menjadi persoalan serius yang kerap luput dari perhatian.
Makanan dan minuman manis telah menjadi bagian dari keseharian remaja, seolah tanpa risiko, padahal dampaknya tidak hanya menyentuh kesehatan fisik, tetapi juga kesehatan psikologis.
Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Tahun 2018 menunjukkan bahwa penduduk Indonesia usia di atas tiga tahun mengonsumsi minuman manis lebih dari satu kali dalam sehari, dengan remaja sebagai kelompok yang cukup tinggi konsumsinya.
Padahal, Kementerian Kesehatan merekomendasikan batas konsumsi gula maksimal 50 gram per hari atau setara empat sendok makan. Berbagai studi menemukan bahwa angka konsumsi ini kerap terlampaui, terutama melalui minuman berpemanis kemasan dan jajanan kekinian.
Secara biologis, gula memang dapat memicu rasa senang karena merangsang pelepasan dopamin di otak. Namun, konsumsi gula yang berlebihan justru dapat memicu efek sebaliknya. Sejumlah kajian ilmiah menunjukkan bahwa asupan gula tinggi berkaitan dengan perubahan suasana hati, meningkatnya stres, gangguan konsentrasi, hingga ketergantungan psikologis. Kondisi ini membuat gula tidak lagi sekadar persoalan gizi, melainkan juga kesehatan mental.
Masalah muncul ketika rasa nyaman sesaat dari konsumsi gula mendorong remaja untuk mengonsumsinya secara berulang tanpa kendali. Minuman manis kerap dijadikan pelarian saat lelah, stres, atau bosan. Dalam jangka panjang, pola ini membentuk kebiasaan yang sulit dihentikan dan menyerupai perilaku adiktif, di mana remaja terus mencari rasa manis untuk menstabilkan emosinya.
Konsumsi gula berlebih diketahui dapat memengaruhi sistem pengaturan stres dalam tubuh. Ketika kadar gula darah naik dan turun secara drastis, remaja dapat mengalami perubahan suasana hati mendadak, mudah marah, gelisah, atau sulit fokus. Kondisi ini tidak jarang berdampak pada prestasi belajar, relasi sosial, dan kesejahteraan psikologis secara keseluruhan.
Ironisnya, tingginya konsumsi gula tidak selalu disebabkan oleh kurangnya pengetahuan. Penelitian menunjukkan bahwa banyak remaja sebenarnya sudah mengetahui dampak buruk konsumsi gula berlebih, tetapi pengetahuan tersebut tidak otomatis berubah menjadi perilaku sehat. Hal ini menunjukkan adanya masalah pada aspek kesadaran diri dan kemampuan remaja dalam mengelola dorongan serta emosi mereka.
Kesadaran diri (self awareness) menjadi faktor kunci dalam memahami perilaku konsumsi gula remaja. Remaja dengan kesadaran diri yang baik cenderung mampu mengenali sinyal tubuh, memahami hubungan antara makanan dan emosi, serta mempertimbangkan dampak jangka panjang dari pilihan yang diambil. Sebaliknya, rendahnya kesadaran diri membuat remaja lebih mudah terdorong oleh keinginan sesaat.
Kerentanan ini semakin diperkuat oleh lingkungan yang sarat promosi minuman manis, baik di sekitar sekolah maupun di media sosial. Remaja berada pada fase perkembangan di mana kontrol impuls belum sepenuhnya matang, sementara paparan iklan dan tren konsumsi gula terus meningkat. Tanpa dukungan lingkungan yang sehat, pilihan untuk mengurangi konsumsi gula menjadi semakin sulit.
Edukasi di Sekolah
Oleh karena itu, pengendalian konsumsi gula pada remaja tidak cukup dilakukan melalui imbauan gizi atau larangan semata. Diperlukan pendekatan yang menyentuh aspek psikologis, sosial, dan lingkungan, agar remaja mampu membangun kesadaran diri dan kebiasaan sehat secara berkelanjutan.
Salah satu solusi penting adalah memperkuat edukasi langsung di sekolah-sekolah. Edukasi ini perlu mengaitkan dampak konsumsi minuman manis dengan kesehatan fisik dan psikologis secara bersamaan. Dengan pendekatan yang dialogis dan sesuai realitas remaja, pesan tentang bahaya gula berlebih dapat lebih mudah dipahami dan diinternalisasi.
Selain di sekolah, edukasi juga perlu hadir di ruang digital yang dekat dengan remaja. Media sosial seperti Instagram dan TikTok dapat dimanfaatkan untuk menyampaikan pesan tentang dampak konsumsi gula berlebih dengan cara yang kreatif dan relevan. Konten singkat, visual, dan berbasis pengalaman sehari-hari remaja berpotensi membangun kesadaran secara perlahan namun luas.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/Tsaniatus-Solihah-SE-Mahasiswa-Magister-Psikologi-UNIKA.jpg)