Horizzon
Noel yang Apes
Wakil Menteri Ketenagakerjaan (Wamenaker) Immanuel Ebenezer Gerungan mampu mencuri panggung pemberitaan
Penulis: Ibnu Taufik Juwariyanto | Editor: abduh imanulhaq
Oleh: Ibnu Taufik Juwariyanto, Pemimpin Redaksi Tribun Jateng
MEMPERSONIFIKASIKAN dirinya sebagai sosok yang tegas begitu menjabat sebagai Wakil Menteri Ketenagakerjaan (Wamenaker), Immanuel Ebenezer Gerungan mampu mencuri panggung pemberitaan.
Langkahnya yang rajin ke lapangan untuk menyelesaikan masalah-masalah ketenagakerjaan bahkan membuat orang lebih mengenal sosok wakil menteri dibanding menteri yang diwakilinya.
Tak terkecuali itu juga saya alami. Noel yang rajin ke lapangan menyentuh langsung problem-problem nyata membuat saya tak pernah berpikir kabinet Prabowo juga punya Menteri Tenaga Kerja yang dijabat oleh Yassierli yang lengkap dengan gelarnya harus ditulis Prof. Yassierli, S.T., M.T., PH.D.
Namun, panggung Noel ternyata tidak bertahan lama. Layaknya panggung wayang, tokoh-tokoh yang muncul dan menguasai panggung di ‘perang kembang’ pada ujungnya akan pupus oleh kisahnya sendiri.
Noel juga demikian. Ketokohan yang ia bangun dengan karakter, gesture berikut atribut tak lazim bagi seorang menteri saat ia tampil di depan kameramen yang dibawa saat sidak ke ‘perusahaan-perusahaan bermasalah’ pupus begitu saja.
Ia terjegal dalam OTT KPK setelah lembaga antirasuah ini mencium ada dugaan pemerasan sertifikasi keselamatan dan kesehatan kerja (K3) di Kemnaker, dan Si Noel ada di dalam circle tersebut.
Singkatnya, tokoh yang membranding dirinya sebagai ‘petugas negara’ yang selalu garang ini harus tampil dengan ekspresi sebaliknya. Memalukan, hina, dan bahkan tangisnya menjadi olok-olok pewarta yang ada di KPK harus menjadi akhir dari pementasan seorang Noel di panggung politik.
Jika boleh meminjam istilah dari kawan lama saya, Denny Siregar, Youtuber ‘berisik’ asal Surabaya, saya sepakat Noel ini orang yang suka cari perhatian. Berstatus sebagai mantan driver ojol yang kemudian menasbihkan dirinya sebagai dedengkot Jokowi Mania, Noel juga sering membuat gaduh.
Denny Siregar bahkan pernah menyinggung langkah Noel yang pernah mengampanyekan pembelaan terhadap Munarman adalah bagian dari acting untuk membranding dirinya.
Dan apapun itu, Noel boleh dibilang sukses. Ia mendapatkan posisi sebagai Komisaris BUMN dan juga posisi Wamenaker yang sekaligus menjadi puncak karier yang bakal membawanya ke penjara.
Pertanyannya sekarang adalah, kenapa harus Noel?
Saya percaya dan sangat yakin, lembaga antirasuah di negeri yang ‘sakit akut’ ini, KPK memiliki ribuan daftar dugaan korupsi yang ada dan masuk ke meja kerja mereka. Dengan keterbatasan kapasitas dan juga alasan subjektif lainnya, KPK harus memilih mana yang akan diselesaikan.
Dan pilihan untuk membidik kasus dugaan pemerasan pengurusan sertifikasi K3 di Kemnaker ini membuat saya dan orang-orang yang seide dengan saya makin putus asa dengan masa depan negeri ini.
Kisah Noel yang tampil awal sebagai pahlawan harus berakhir di KPK lantaran terjerat korupsi. Ini menguatkan keyakinan saya bahwa di negeri ini tak ada lagi yang bisa dipercaya. Siapapun orang yang diberi kepercayaan di negeri kaya raya ini, ujung-ujungnya akan terkena candu korupsi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/Ibnu-Taufik.jpg)