UIN SAIZU Purwokerto
UIN Saizu Dorong Kesetaraan Akademik lewat Workshop Penyusunan Buku Ajar Responsif Gender
UIN Saizu Dorong Kesetaraan Akademik lewat Workshop Penyusunan Buku Ajar Responsif Gender
TRIBUNJATENG.COM- Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto menunjukkan komitmennya terhadap pengarusutamaan gender di dunia pendidikan.
PSGA Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) menggelar Workshop Penyusunan Buku Ajar Responsif Gender pada Selasa, 2 September 2025, di Ruang Rapat Lantai 4 Rektorat.
Kegiatan ini dibuka secara resmi Kepala LPPM Saizu Purwokerto, Prof. Ansori. Dalam sambutannya, dia menegaskan pentingnya peningkatan kapasitas dosen dalam menyusun bahan ajar yang tidak hanya ilmiah, tetapi juga berpihak pada keadilan dan kesetaraan gender.
“Workshop ini menjadi langkah strategis untuk menciptakan suasana belajar yang inklusif dan berkeadilan, sejalan dengan visi UIN Saizu sebagai kampus ramah dan humanis,” ujar Prof. Ansori.
Sementara itu, Ketua PSGA UIN Saizu Purwokerto, Dr. Ida Novianti menekankan urgensi integrasi perspektif gender dalam buku ajar. Menurutnya, masih banyak bahan ajar yang bias gender dan kurang memberikan ruang bagi kelompok yang termarginalkan.
“Workshop ini momentum penting untuk membangun kesadaran sekaligus menghasilkan produk akademik yang lebih responsif gender,” ungkap Dr. Ida.
Workshop menghadirkan dua narasumber utama, yakni Irma Riyani, dari UIN Sunan Gunung Djati Bandung dan Siti Rofiah dari UIN Walisongo Semarang. Kegiatan dipandu Feny Cholisoh, Psikolog dan Uus Uswatusolihah dosen UIN Saizu.
Dalam paparannya, Irma Riyani mengangkat konsep GEDSI (Gender, Equity, Disability, and Social Inclusion) sebagai pendekatan penting dalam pendidikan tinggi. Menurutnya, GEDSI memastikan semua kelompok, termasuk yang terpinggirkan, mendapat akses dan partisipasi setara dalam pembelajaran.
Ia mencontohkan adanya bias kurikulum, seperti dominasi perspektif laki-laki dalam literatur Islam atau minimnya representasi penyandang disabilitas dalam buku kewarganegaraan.
“Buku ajar harus bebas diskriminasi, menggunakan bahasa inklusif, dan memberi ruang partisipasi bagi semua mahasiswa,” tegas Irma.
Sementara itu, Siti Rofiah memaparkan strategi teknis penyusunan buku ajar responsif gender. Ia menjelaskan bahwa buku ajar yang baik harus sesuai Rencana Pembelajaran Semester (RPS), memuat latihan soal, dan mencantumkan referensi yang seimbang antara tokoh laki-laki dan perempuan.
“Responsif gender artinya sadar bahwa ketidakadilan itu ada, lalu berupaya menghadirkan materi, ilustrasi, dan contoh kasus yang adil serta tidak bias,” jelas Siti Rofiah.
Peserta workshop tidak hanya menerima materi, tetapi juga diajak berdiskusi sekaligus berlatih menyusun draft buku ajar. Mereka meninjau aspek responsif gender mulai dari pemilihan topik, penggunaan bahasa, ilustrasi, hingga desain tugas.
Suasana kolaboratif tercipta dengan keterlibatan lintas fakultas, sehingga menghasilkan berbagai gagasan aplikatif untuk pengembangan kurikulum dan bahan ajar di UIN Saizu.
| SABUDAYA Resmi Dibentuk, Kebangkitan Sastra dan Budaya Mahasiswa UIN Saizu Dimulai |
|
|---|
| Kembangkan Aplikasi Spiritual Care, Aris Fitriyani Menjadi Doktor Ke-87 Pascasarjana UIN Saizu |
|
|---|
| Menteri Agama Tegaskan Pesantren Harus Jadi Ruang Aman bagi Anak, Kekerasan Tak Boleh Ditoleransi |
|
|---|
| Hadirkan Dewan Pengawas BLU, UIN Saizu Perkuat Tata Kelola Keuangan dan Optimalisasi Layanan Kampus |
|
|---|
| Prof Ridwan: UIN Saizu Tidak Bisa Lepas dari Peran Media |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/20250903-uinsaizu-workshop.jpg)