Breaking News
Senin, 18 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

UIN SAIZU Purwokerto

Green Campus Kemenag: Dari Himmatu Rasul ke Arboretum Kampus UIN SAIZU

Program Green Campus Kementerian Agama dimaknai sebagai gerakan ekoteologi profetik melalui arboretum konservasi UIN SAIZU.

Tayang:
Penulis: Adi Tri | Editor: galih permadi
IST
Program Green Campus Kementerian Agama dimaknai sebagai gerakan ekoteologi profetik melalui arboretum konservasi UIN SAIZU. 

Dalam kacamata profetik, ini bukan isu administrasi, tetapi ujian amanah. Tanah negara bukan ruang dagang yang boleh diperdagangkan seenaknya. Ia titipan publik, bahkan titipan generasi. Ketika lahan kampus dipertahankan sebagai ruang hijau, ia bukan hanya menyimpan karbon dan menyerap air; ia sedang merawat masa depan.

UIN SAIZU: ketika ekoteologi menjadi wajah kampus

Jika ada yang bertanya “contoh konkret Green Campus itu seperti apa?”, jawabnya ada di sini tak jauh dari denyut Banyumas dan Purbalingga: Kampus II UIN SAIZU di Purbalingga sedang disiapkan menjadi arboretum konservasi/laboratorium alam terbuka, dengan gerakan penanaman pohon langka secara berkelanjutan.

Ini bukan simbolik. Ini serius. UIN SAIZU menyebut Kampus II sebagai refugium, habitat aman bagi flora langka, sekaligus ruang pendidikan ekologis. Bahkan program ini juga didukung dan dibingkai sebagai model konservasi strategis bersama Forum Pohon Langka Indonesia (FPLI), menunjukkan bahwa kampus keagamaan dapat berdiri di garda depan penyelamatan biodiversitas. 

Lebih menarik lagi: gerakan ini tidak berjalan tanpa subjek. Ia melibatkan Prodi Ilmu Lingkungan dan komunitas mahasiswa yang artinya ekoteologi benar-benar turun menjadi habitus akademik. HMPS Ilmu Lingkungan UIN SAIZU, misalnya, menggelar aksi kolektif penanaman flora endemik di Kampus II sebagai bagian pendidikan dan kesadaran ekologis.
 
Maka di titik ini, Green Campus bukan narasi pusat yang “diturunkan” ke daerah. Ia menjadi gerakan yang “tumbuh” dari kampus: dari Banyumas-Purbalingga, dari ruang-ruang belajar, dari mahasiswa, dari kebijakan institusi.

Dari kampus ke publik: ekoteologi sebagai kebijakan peradaban

Apa makna strategis dari arboretum konservasi pohon langka di Kampus II UIN SAIZU?

Pertama, ia adalah bukti bahwa kampus Islam mampu bergerak dari retorika ke institusi: ada ruang, ada kebijakan, ada ekosistem, ada keberlanjutan program.
Kedua, ia menegaskan bahwa agama tidak boleh netral terhadap krisis iklim dan kepunahan hayati. Netralitas pada bencana ekologis adalah bentuk lain dari pembiaran.

Ketiga, ia memperlihatkan bahwa Green Campus sesungguhnya adalah pendidikan karakter tingkat tinggi: bukan sekadar IPK, tetapi akhlak ekologis.
Jika konsep himmatu rasul adalah energi profetik yang bekerja menjaga kehidupan, maka arboretum konservasi di Kampus II UIN SAIZU adalah salah satu bentuk paling konkret dari energi itu di masa kini: menjaga yang langka, merawat yang rapuh, melindungi yang terancam punah.

Penutup: kampus hijau atau kampus kehilangan ruh

Green Campus Kemenag akan menjadi tonggak penting bila ia sungguh mengubah kampus dari “pabrik ijazah” menjadi “laboratorium peradaban”. Dan UIN SAIZU memberi pelajaran kuat: ketika kampus berani menjadikan lahan sebagai taman konservasi, ia sedang menyatakan kepada publik bahwa agama bukan sekadar penghibur spiritual, melainkan kekuatan etis penyelamat kehidupan.

Kini pertanyaannya bukan lagi “siapa yang ikut program Green Campus”, tetapi: siapa yang berani menjadikan kampus sebagai rahmat bagi seluruh ekosistem? Sebab di era krisis iklim, kampus Islam yang tidak hijau sesungguhnya sedang mempertaruhkan satu hal yang tak bisa diganti oleh pemeringkatan apa pun: legitimasi moralnya. (***)

Halaman 2/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved