Readers Note
Ketika Orang Tua Lebih Takut Netizen daripada Masa Depan Anak
Media sosial telah mengubah banyak hal dalam kehidupan manusia, termasuk cara orang tua mendidik anak.
Ketika Orang Tua Lebih Takut Netizen daripada Masa Depan Anak
Oleh Dr Elinda Rizasari, Spd, Mpd
Dosen PGSD Universitas Slamet Riyadi Surakarta.
Media sosial telah mengubah banyak hal dalam kehidupan manusia, termasuk cara orang tua mendidik anak. Hari ini, keputusan pengasuhan tidak lagi sepenuhnya berangkat dari nilai, ilmu, dan pertimbangan jangka panjang, melainkan sering kali dipengaruhi oleh satu pertanyaan sederhana: “Bagaimana komentar netizen nanti?”
Fenomena ini bukan sekadar asumsi. Beberapa waktu lalu, sebuah video yang memperlihatkan seorang ibu menegur anaknya di tempat umum menjadi viral. Alih-alih melihat konteks dan niat pendidikan di baliknya, sebagian netizen justru menghujani sang ibu dengan kecaman. Ia dicap sebagai orang tua keras, tidak empatik, bahkan tidak layak memiliki anak.
Dalam wawancara lanjutan, sang ibu mengaku trauma dan memilih untuk tidak lagi menegur anaknya di ruang publik karena takut direkam dan dihakimi. Kisah ini mencerminkan realitas baru pengasuhan di era digital: rasa takut terhadap netizen sering kali lebih besar daripada keberanian mendidik anak.
Ketakutan Baru
Jika dahulu orang tua takut anaknya tidak berpendidikan atau tidak berakhlak, kini muncul ketakutan baru: takut dicap sebagai orang tua “toxic”, “tidak empatik”, atau “tidak mengikuti zaman”. Ketakutan ini perlahan membentuk pola asuh yang reaktif, bukan reflektif. Banyak orang tua akhirnya memilih jalan aman secara sosial, meskipun secara pedagogis dan psikologis belum tentu tepat.
Penelitian terbaru dalam bidang psikologi perkembangan menunjukkan bahwa anak justru membutuhkan batas yang jelas, konsistensi, dan kehadiran orang tua yang tegas namun hangat.
Studi longitudinal yang dipublikasikan dalam Journal of Child and Family Studies tahun 2023 menemukan bahwa pola asuh yang terlalu permisif karena tekanan sosial berkorelasi dengan rendahnya kemampuan regulasi emosi dan tanggung jawab sosial anak di usia remaja. Temuan ini menegaskan bahwa menghindari konflik demi citra publik dapat berdampak serius terhadap perkembangan jangka panjang anak.
Konten dan Validasi
Di era algoritma, anak tidak hanya menjadi subjek pengasuhan, tetapi juga kerap berubah menjadi objek konten. Momen marah, sedih, hingga kegagalan anak sering kali dibagikan dengan dalih edukasi atau kejujuran pengasuhan. Padahal, anak tidak pernah memberikan persetujuan atas jejak digital yang dibentuk atas nama mereka.
Riset global tentang sharenting yang dirilis pada 2024 menunjukkan bahwa paparan berlebihan kehidupan anak di media sosial berisiko memengaruhi konsep diri dan rasa aman anak di kemudian hari. Anak dapat tumbuh dengan perasaan bahwa penerimaan orang tua dan lingkungan bergantung pada reaksi publik, bukan pada hubungan emosional yang sehat. Dalam konteks ini, ketakutan orang tua terhadap netizen justru memindahkan beban psikologis kepada anak.
Kebisingan Digital
Ilmu parenting sejatinya berkembang dinamis dan berbasis bukti. Namun di media sosial, kompleksitas tersebut sering dipangkas menjadi potongan pendek yang sensasional. Algoritma tidak mempromosikan kehati-hatian, melainkan konflik dan emosi. Akibatnya, diskursus pengasuhan lebih sering berubah menjadi arena saling menghakimi dibandingkan ruang pembelajaran kolektif.
Padahal, setiap anak tumbuh dalam konteks yang berbeda. Nilai keluarga, latar budaya, serta kondisi psikologis anak tidak bisa diseragamkan. Ketika orang tua terlalu tunduk pada tekanan digital, kompas nilai dalam keluarga perlahan kehilangan arah. Yang tersisa hanyalah kebisingan opini yang tidak pernah benar-benar ikut bertanggung jawab atas masa depan anak.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/elinda-Dosen-prodi-PGSD-Unisri-Surakarta.jpg)