Jumat, 10 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Opini

Velocity of Money Lebaran: Euforia Perputaran Uang

ebaran telah usai. Jutaan pemudik telah kembali ke kota perantauan masing-masing, rutinitas pekerjaan kembali menyapa

Penulis: Adi Tri | Editor: abduh imanulhaq
IST
Aryanto, Ketua Program Studi S1 Akuntansi Universitas Harkat Negeri 

Oleh: Aryanto, Ketua Program Studi S1 Akuntansi Universitas Harkat Negeri

LEBARAN telah usai. Jutaan pemudik telah kembali ke kota perantauan masing-masing, rutinitas pekerjaan kembali menyapa, dan sisa-sisa opor ayam mungkin sudah habis dihangatkan. Di balik gegap gempita silaturahmi Idulfitri kemarin, ada sebuah fenomena ekonomi luar biasa yang baru saja kita saksikan yaitu melesatnya Velocity of Money atau perputaran uang yang sangat cepat di masyarakat.

Fenomena Lebaran bukan hanya soal tradisi budaya namun ada fenomena ekonomi didalamnya. Sederhananya, Lebaran adalah momen ketika uang dalam jumlah sangat besar berpindah tangan dalam waktu singkat. Ibarat dalam pembukuan, terjadi “pemindahan posisi” uang secara besar-besaran di seluruh perekonomian.

Secara sederhana, perputaran uang atau Velocity of Money menggambarkan seberapa cepat selembar uang berpindah tangan. Semakin tinggi tingkat perputarannya, semakin bergairah ekonomi di masyarakat. 

Ledakan Cash Outflow dan Budaya Berbagi

Menjelang dan saat Lebaran, sebagian besar masyarakat Indonesia secara tidak langsung menerapkan prinsip sederhana: ketika menerima pendapatan tambahan, pengeluaran pun ikut meningkat. Ketika pekerja menerima Tunjangan Hari Raya (THR), mereka segera menggunakannya untuk berbagai kebutuhan khas Lebaran, mulai dari tiket mudik, baju baru, hingga menyiapkan uang untuk keponakan.

Akibatnya, terjadi arus kas keluar (cash outflow) yang sangat besar dan cepat dari rumah tangga. Uang terus berpindah tangan dalam waktu singkat: dari pemudik ke agen transportasi, lalu ke pedagang makanan, hingga ke petani dan produsen lokal. Perputaran inilah yang membuat ekonomi terasa lebih hidup selama periode Lebaran.

Menariknya, di daerah seperti Tegal, arus kas keluar ini tidak hanya didorong oleh kebutuhan konsumsi, tetapi juga oleh tradisi yang kuat dalam budaya berbagi. Tradisi seperti ”Nyadran” (mengirim bingkisan gula dan teh kepada saudara yang lebih tua), ”Prepegan” (belanja besar menjelang Lebaran), ”Pecingan” (memberi uang kepada anak-anak), hingga kiriman makanan menggunakan rantang, semuanya menjadi saluran perputaran uang di masyarakat.

Tradisi tersebut merupakan bentuk nyata perpindahan uang dan barang dari satu rumah tangga ke rumah tangga lain. Bahkan ada tradisi ”Bada Kupat” pada hari ketujuh Syawal kembali menggerakkan konsumsi dan distribusi pangan di tingkat lokal. Nilai budaya seperti saling berbagi dan menghormati ternyata sekaligus menjadi “mesin penggerak” yang mempercepat perputaran ekonomi.

Bagi jutaan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), arus kas keluar dari rumah tangga ini berubah menjadi arus kas masuk (cash inflow) yang signifikan. Penjualan meningkat tajam, dan dalam waktu singkat, kinerja usaha mereka ikut terdongkrak.

Pasca-Lebaran: Fase Memperbaiki Neraca 

Prinsip akuntansi mengajarkan kita tentang keseimbangan yaitu setiap pendebitan pasti ada pengkreditan. Momen lebaran yang memicu Velocity of Money tinggi ini harus dibayar dengan berkurangnya aset likuid di Neraca pribadi masyarakat. Pasca lebaran, saldo akun "Kas dan Setara Kas" di dompet dan rekening mayoritas orang menurun tajam, bahkan tidak sedikit yang harus menanggung tambahan utang untuk menutup kebutuhan selama Lebaran.

Inilah fase yang kita rasakan setelah Lebaran: perputaran uang mulai melambat. Jika saat Lebaran masyarakat cenderung banyak membelanjakan uang, kini fokus beralih pada pemulihan kondisi keuangan. Aktivitas kembali normal yaitu bekerja, memperoleh penghasilan, dan mulai menabung kembali.

Secara sederhana, ini adalah masa “pemulihan keuangan” bagi rumah tangga. Masyarakat mulai menahan pengeluaran dan berusaha menyisihkan pendapatan agar kondisi keuangan kembali stabil. Dampaknya juga terasa di sekitar kita. Warung, toko, dan pusat perbelanjaan yang sebelumnya ramai kini kembali ke tingkat kunjungan seperti biasa, karena daya beli masyarakat sedang dipulihkan.

Tantangan Going Concern

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved