Minggu, 31 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

UIN Walisongo Semarang

Sosok Anita Wisudawati Terbaik UIN Walisongo Semarang: Ayah Saya Cuma Petani Lulusan SD

Anita asal Bojonegoro, Jawa Timur ini dikukuhkan sebagai wisudawati terbaik UIN Walisongo Semarang dengan raihan IPK gemilang yakni 3,73.

Tayang:
Penulis: Dse | Editor: deni setiawan
TRIBUN JATENG/KEMENAG
WISUDAWATI TERBAIK - Anita Firdaus, wisudawati terbaik S1 UIN Walisongo Semarang. 

"Namun dari situ saya belajar berani," kenangnya.

Walau orangtua petani, selalu semangat mendorongnya sukses. Anita lahir dari keluarga sederhana.

Kedua orangtuanya, Ghozali dan Umariyah hanyalah seorang petani dan hanya mengenyam pendidikan lulusan Sekolah Dasar (SD).

Hal itu tidak membuat langkah Anita surut.

Sebaliknya, keterbatasan ekonomi keluarga justru menjadi pemantik bahan bakar spiritualnya.

AFI UIN Walisongo dan ICC Jakarta gelar praktikum logika untuk asah nalar kritis

Petuah Sakti Orangtua

Ketika mahasiswa lain sering mengeluh karena merasa jenuh (burnout) selama kuliah, Anita justru sama sekali tidak pernah merasakannya.

Rahasianya terletak pada sebuah petuah sakti dari orangtuanya yang selalu dia tancapkan di dalam dada.

"Saya tidak pernah jenuh karena selalu ingat pesan orangtua: 'Temannya orang sukses itu ilmu. Jadi jangan meniru bapak ibu yang lulusan SD dulu. Bapak Ibu ingin sekolah sampai sarjana tapi tidak tercapai."

"Jadi, sekolahlah yang rajin, tekun dan jangan lupa doakan bapak ibu.' Ucapan itu yang membuat saya selalu bersemangat dalam menuntut ilmu," tutur Anita.

Tak hanya itu, sang ibu juga kerap melemparkan lecutan motivasi yang unik agar Anita serius menguasai jurusannya.

"Ibu pernah bilang, 'Kuliah Manajemen Haji Umroh tapi kok tidak paham materi haji umroh? Nanti kalau jadi petugas atau pembimbing bagaimana nasib jamaahnya?'"

"Kalimat ibu itu yang membuat saya selalu memanfaatkan waktu luang di pondok (Ma'had) untuk terus melahap buku materi haji dan umroh," katanya.

Dituntut Pintar Membagi Waktu

Selama kuliah, Anita tinggal di lingkungan Ma'had (pondok pesantren). Hal itu menuntut Anita pintar membagi waktu.

Kuncinya, dia selalu berkomitmen menyelesaikan tugas kuliah tepat waktu setelah seluruh kegiatan Ma'had selesai.

Beruntung, Anita dikelilingi oleh sahabat-sahabat kuliah yang suportif yang selalu siap mengulurkan bantuan saat dia kesulitan memahami materi kelas.

Sumber: Kompas.com
Halaman 2/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved