Breaking News:

Ramadan 2020

UPDATE RAMADHAN 2020: Lebaran Bagi Perantauan hingga Tjahjo Kumolo Larang PNS Pulang Kampung

Tahun 2019 silam jumlah pemudik masuk Jateng mencapai sekitar 8,4 juta orang lengkap dengan membawa bekal hidup minimal dua pekan di pedesaan

Editor: Catur waskito Edy
ANTARA FOTO/MOHAMMAD AYUDHA
Antrean kendaraan masuk tol melalui Gerbang Tol Colomadu, Karanganyar, Jawa Tengah, Jumat (7/6/2019). Pada H+2 Lebaran 2019, arus balik melalui pintu Tol Colomadu terpantau ramai lancar dan diperkirakan puncak arus balik pada 8-9 Juni 2019. 

Tapi alhamdulillah mereka mendukung saya untuk tidak mudik. Karena mereka paham konsekuensinya dan juga ingin mengikuti aturan pemerintah," ujar dia.

Ofi menyatakan, tidak akan mudik sampai pandemi covid-19 berakhir. Walaupun jika nanti diharuskan terpaksa menjalankan perayaan Idul Fitri di tempat perantauan. "Saya sudah bertekad untuk tidak mudik sampai pandemi berakhir. Walaupun nanti hingga perayaan Idul Fitri," tuturnya.

"Saya sendiri juga sadar bagaimana supaya badan tetap fit dan tidak mudah terserang penyakit. Disarankan untuk minum jamu buatan sendiri tiap hari, vitamin, jaga pola makan, dan cukup istirahat. Tak lupa untuk terus berdoa," beber Ofi.

Ofi beruntung diberi kesempatan untuk bisa bekerja di rumah kos selama pandemi covid-19. Selain itu, dirinya juga mendapatkan fasilitas masker, hand sanitizer, dan vitamin.

"Alhamdulillah masih diberi kesempatan untuk WFH dulu. Selain itu kami juga bisa mengakses website untuk memantau penyebaran covid-19 di area perusahaan. Kantor juga rutin melakukan penyemprotan desinfektan," kata Ofi yang tinggal di perbatasan dengan Jakarta Selatan.

Biaya Ekonomi makin tinggi

Terpisah, Angelina Ika Rahutami seorang ekonom Unika, menilai dampak ekonomi mudik tahun ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Terlepas dari anjuran pemerintah agar para perantau tidak mudik, dan faktanya sebagian sudah mudik tiba di kampung halaman di Jawa Tengah, pengamat ekonomi ini melihat ada hal berbeda.

Menurutnya, sebagian besar pemudik bukanlah mudik karena Lebaran. Sebagian besar dari mereka mudik karena sudah tidak memiliki pekerjaan lagi di kota, atau dirumahkan, atau mengalami penurunan daya beli yang sangat banyak.

Secara ekonomi, masuknya ribuan pemudik ke desa atau pun kota asal, dengan ketidakjelasan kapan pulang, berbeda dengan arus mudik biasa yang akan memiliki kepastian kapan mereka akan kembali ke kota. Akan menimbulkan biaya ekonomi yang tinggi. Dan biaya ekonomi makin tinggi bila ternyata kepulangan mereka membawa dampak penyakit.

Biaya yang muncul adalah biaya individual dan biaya sosial. Biaya individual akan ditanggung oleh rumah tangga, tempat para pemudik ini kembali. Artinya setiap rumah tangga akan bertambah beban pengeluarannya.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved