Rabu, 27 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Internasional

Muncul Kesaksian Baru Atas Pembunuhan Malcolm X, Keluarga Minta Penyelidikan Kembali Dibuka

Kesaksian baru itu mengungkap bahwa polisi New York dan FBI terlibat dalam pembunuhan Malcolm X alias El Hajj Malik El Shabazz pada 21 Februari 1965.

Tayang:

TRIBUNJATENG.COM, NEW YORK CITY - Ilyasah Shabazz, putri dari aktivis muslim kulit hitam terkemuka Malcolm X, menyerukan agar penyelidikan terhadap pembunuhan mendiang ayahnya kembali dibuka.

Pasalnya, ada kesaksian baru.

Kesaksian baru itu mengungkap bahwa polisi New York dan FBI terlibat dalam pembunuhan Malcolm X alias El Hajj Malik El Shabazz pada 21 Februari 1965.

Baca juga: Kecelakaan Mobil Ertiga di Tol Pekalongan Tabrak Beton Pembatas

Baca juga: Militer Myanmar Langsung Keluarkan Ancaman saat Demonstran Serukan Mogok Massal

Baca juga: Liputan Khusus: Dampak Kebijakan Pajak Nol Persen bagi Bursa Jual Beli Mobil Baru dan Mobil Bekas

Baca juga: Tradisi Aneh, Bocah 12 Tahun Dipaksa Makan Banyak Biar Gendut, Kemudian Dinikahkan dengan Pria Tua

"Setiap bukti yang memberikan pengetahuan terbesar tentang kebenaran di balik tragedi mengerikan itu harus diselidiki secara menyeluruh," kata Ilyasah Shabazz, salah satu dari enam putri Malcolm X, selama jumpa pers pada Sabtu (20/2/2021).

Malcolm X disejajarkan dengan tokoh Martin Luther King Jr, sebagai salah satu orang Afro-Amerika yang paling berpengaruh dalam sejarah.

Malcolm X adalah aktivis pembela hak-hak kulit hitam Muslim yang terang-terangan meskipun para kritikus mengatakan bahwa dia juga menyampaikan rasialisme dan kekerasan.

Dia ditembak mati saat tampil sebagai pembicara publik di New York pada 21 Februari 1965.

Ketika dihubungi pada Minggu oleh kantor berita AFP, Juru bicara jaksa wilayah Manhattan mengatakan "peninjauan" kantor terhadap kasus tersebut "sedang aktif dan sedang berlangsung."

Selama jumpa pers, sebuah surat yang ditulis oleh mantan perwira polisi New York Raymond Wood, yang sekarang sudah meninggal, dibacakan, di mana dia menuduh NYPD dan FBI terlibat dalam pembunuhan tersebut.

Menurut sepupunya, Wood, yang berkulit hitam dan bekerja sebagai agen rahasia, mengaku telah mendekati rombongan Malcolm X atas perintah atasannya.

Wood telah menahan 2 pengawal Malcolm X beberapa hari sebelum peristiwa pembunuhan.

 
Pada 1965, 55 tahun yang lalu, El Hajj Malik El Shabazz, nama muslim dari Malcolm X, tanpa 2 pengawalnya, tewas ditembak mati oleh 3 pria bersenjata ketika hendak menyampaikan pidato publik di Aula Audubon, sebuah panggung teater di Harlem, bagian utara Manhattan, Amerika Serikat.

Wood yang tidak memberi kesaksian kepada publik sampai kematiannya menuduh NYPD atau polisi New York dan FBI merahasiakan aspek-aspek tertentu dari kasus kematian Malcolm X.

Pada Februari 2020, setelah Netflix merilis serial dokumenter "Who Killed Malcolm X?", Jaksa Wilayah Manhattan, Cyrus Vance, meminta timnya untuk meninjau kasus tersebut untuk menentukan apakah penyelidikan harus dibuka kembali atau tidak.

Ketika dihubungi pada Minggu oleh AFP, polisi New York mengatakan telah merilis semua catatan yang tersedia yang relevan dengan kasus itu ke kantor Jaksa Wilayah.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved