Breaking News:

OPINI

OPINI Panggih Priyo Subagyo : Keberhasilan Pembebasan Narapidana di Masa Pandemi

KEMENTERIAN Hukum dan Hak Asasi Manusia kembali memperpanjang kebijakan untuk membebaskan narapidana di tengah

Editor: Catur waskito Edy
(Shutterstock/angellodeco)
Ilustrasi varian virus corona Delta. Varian ini pertama kali diidentifikasi di India, sebelumnya dinamai B.1.617.2. Virus corona varian Delta. 

Jika ukuran keberhasilan dilihat dari capaian angka, maka benar bahwa program asimilasi di rumah dari Ditjen Pemasyarakatan sukses besar. Target terpenuhi, bahkan melebihi. Namun sebenarnya perlu dilihat juga, bagaimana kondisi para warga binaan setelah keluar dari lapas/rutan.

Apakah mereka benar-benar menjalani asimilasi di rumah sesuai dengan peraturan yang telah ditetapkan. Bisakah mereka tetap berada di rumah, tidak bepergian atau berkumpul bersama teman-teman yang sudah lama tidak dijumpainya? Saya sendiri meragukan hal tersebut.
Bimbingan dan Pengawasan

Narapidana yang mendapatkan program asimilasi di rumah mendapatkan pengawasan dan pembimbingan dari Balai Pemasyarakatan (bapas). Tugas pembimbingan dan pengawasan tersebut ditangani langsung oleh petugas pembimbing kemasyarakatan (PK).
Di masa pandemi ini kegiatan pembimbingan dan pengawasan dilakukan secara daring, baik melalui telepon ataupun video call.

Itupun dilakukan seminggu satu kali. Untuk itu program yang pengawasan dan pembimbingan yang dilakukan bapas harus benar-benar terencana dan terstruktur. Sehingga apa yang diprogramkan akan berjalan efektif dan memberikan manfaat bagi klien.

Saat ini hal yang paling berharga adalah kesehatan. Begitu juga bagi narapidana yang mendapatkan program asimilasi di rumah.

Untuk itu program pembimbingan dari bapas haruslah memberikan pemahaman kepada klien betapa pentingnya menjaga kesehatan di masa pandemi. Terutama pemahaman terkait bahaya covid-19. Mungkin selama di dalam lapas/rutan informasi terkait virus ini minim mereka dapat.

Terlebih perkembangan virus ini selalu berubah-ubah begitu juga dengan kebijakan yang diterapkan pemerintah. Para narapidana sangat membutuhkan update terkait perkembangan covid-19.
Kesadaran akan mentaati protokol kesehatan harus ditumbuhkan kepada klien dan dipastikan bahwa mereka mematuhinya. Bapas harus memastikan bahwa narapidana menjalani asimilasi di rumah sesuai dengan ketentuan peraturan.

Dalam permenkumham 32 tahun 2020 dijelaskan bahwa mereka dilarang untuk menimbulkan keresahan di masyarakat, tidak mengikuti program pembimbingan dari bapas, tidak mentaati protokol Kesehatan, tidak melakukan wajib lapor dan pindah alamat tinggal tanpa sepengetahuan pihak bapas. Jika salah satu hal tersebut dilanggar maka program asimilasi di rumah dapat dicabut kemudian klien kembali dimasukan ke dalam lapas/rutan.

Koordinasi RT

Untuk itu diperlukan pengawasan yang serius terhadap mereka. Dalam melakukan pengawasan tentu bapas tidak dapat bekerja sendiri. Perlu dukungan dari berbagai pihak, mulai dari keluarga klien, masyarakat sekitar dan pemerintah setempat. Bapas harus mampu membangun koordinasi yang baik dengan pemerintah level bawah seperti RT, RW atau kepala kampung. Untuk memastikan bahwa warganya benar-benar mematuhi peraturan.

Halaman
123
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved