Rabu, 22 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Internasional

Keluarga Afghanistan Jual Anak Perempuan demi Bertahan Hidup

Dia tidak punya pilihan lain selain menawarkan putrinya yang berusia tujuh tahun bernama Jamila untuk dijual.

WAKIL KOHSAR / AFP
Foto yang diambil pada Minggu (12/9/2021), menunjukkan seorang wanita melihat barang-barang rumah tangga bekas yang dijual di pasar di lingkungan barat laut Khair Khana di Kabul. Pasar loak Kabul penuh dengan barang-barang yang dijual orang Afghanistan dengan harga sangat murah hanya untuk membayar makanan. 

"Dan saya tidak punya pilihan lain dan saya menerima untuk menukarkan anak saya untuk membayar utang sebanyak 65.000 Afghani (sekitar Rp10 juta)."

 
Di Provinsi Badghis di Afganistan barat, warga telah lama mengalami kekeringan dan terpaksa meninggalkan rumah dan desa mereka.

Najeeba, perempuan muda yang tinggal di sebuah kamp, telah diperdagangkan oleh keluarganya dengan harga 50.000 Afghani, atau sekitar Rp7,7 juta.

"Di malam hari sangat dingin dan kami tidak punya apa-apa untuk menghangatkan rumah kami.

Kami ingin LSM membantu kami," kata Najeeba kepada DW.

"Saya masihlah seorang anak perempuan.

Saya punya dua saudara laki-laki, satu saudara perempuan dan seorang ibu.

Saya belum mau menikah dan ingin belajar dan mengenyam pendidikan," tambahnya.

Gul Ahmad, ayah dari Najeeba, tidak melihat ada pilihan lain selain menjual putri-putrinya yang lain untuk memenuhi kebutuhan.

"Saya tidak punya pilihan lain dan jika kami ditinggalkan, saya terpaksa menjual putri saya yang lain seharga 50, 30 atau bahkan 20 ribu Afghani."

Banyak warga Afghanistan berusaha melarikan diri dari negara itu untuk menghindar dari Taliban. (DW INDONESIA)
Banyak warga Afghanistan berusaha melarikan diri dari negara itu untuk menghindar dari Taliban. (DW INDONESIA) (Kompas.com/Istimewa)

Lebih dari separuh warga hidup miskin

Program Pangan Dunia (WFP) di bawah PBB memperkirakan bahwa lebih dari separuh penduduk Afganistan hidup di bawah garis kemiskinan.

Kerawanan pangan meningkat, sebagian besar karena konflik dan ketidakamanan yang mengisolasi seluruh komunitas di sana.

WFP mengatakan bahwa sekitar 22,8 juta dari hampir 35 juta penduduk Afganistan diidentifikasi rawan pangan akut.

Angka ini termasuk ratusan ribu warga yang mengungsi akibat konflik sejak awal tahun.

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 2/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved