Rabu, 22 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Internasional

Keluarga Afghanistan Jual Anak Perempuan demi Bertahan Hidup

Dia tidak punya pilihan lain selain menawarkan putrinya yang berusia tujuh tahun bernama Jamila untuk dijual.

WAKIL KOHSAR / AFP
Foto yang diambil pada Minggu (12/9/2021), menunjukkan seorang wanita melihat barang-barang rumah tangga bekas yang dijual di pasar di lingkungan barat laut Khair Khana di Kabul. Pasar loak Kabul penuh dengan barang-barang yang dijual orang Afghanistan dengan harga sangat murah hanya untuk membayar makanan. 

"Sulit rasanya menukar anak untuk membayar utang.

Kami tidak punya apa-apa untuk ditawarkan kecuali anak kami sendiri,” kata Nazo, ibu Jamila.

Menyusul runtuhnya pemerintah Afganistan, upaya bunuh diri juga meningkat dan warga bahkan lebih rentan terhadap penyakit psikologis dan mental.

Kemiskinan meningkat.

Tidak adanya warna-warni dan keramaian dari jalan-jalan Kabul yang sebelumnya cerah dan ramai, membuat situasi suram ini makin kentara.

PBB: Sekarang waktunya untuk bertindak

Sementara penguasa baru Afganistan masih berjuang mendapatkan pengakuan internasional dan mencegah keruntuhan ekonomi negara itu, organisasi kesejahteraan internasional menyerukan bantuan kemanusiaan segera.

Awal pekan ini pada pertemuan tingkat tinggi di Jenewa, Direktur Eksekutif WFP David Beasley menyerukan dukungan sesegera dan sebanyak mungkin.

"Sekarang adalah saatnya, kita tidak bisa menunggu selama enam bulan, kita butuh dana segera sehingga kita dapat menyalurkan persediaan ke posisi awal sebelum musim dingin tiba," katanya.

"Kita tidak bisa meninggalkan orang-orang Afganistan."

Korban manusia dari konflik di Afganistan masih tetap tinggi.

PBB secara khusus mengkhawatirkan dampak konflik terhadap perempuan dan anak perempuan.

Sekitar 80% dari hampir seperempat juta warga Afganistan yang terpaksa mengungsi sejak akhir Mei adalah perempuan dan anak-anak.

Menurut Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA), dari 1 Januari hingga 18 Oktober tahun ini, lebih dari 660 ribu orang terpaksa meninggalkan rumah mereka karena konflik.

Bunuh diri dirasa jadi satu-satunya pilihan

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 3/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved