Berita Internasional
Keluarga Afghanistan Jual Anak Perempuan demi Bertahan Hidup
Dia tidak punya pilihan lain selain menawarkan putrinya yang berusia tujuh tahun bernama Jamila untuk dijual.
Angka pengangguran melonjak dan bagi banyak orang, sumur yang menjadi sumber pendapatan mereka telah kerontang.
Beberapa orang memilih bunuh diri dan mengakhiri perjuangan mereka.
Rohullah, 60, penjaga sekolah yang dikelola pemerintah di Badakhshan utara, sudah tidak menerima gaji selama 3 bulan terakhir.
Ia adalah salah seseorang yang mengambil pilihan putus asa itu, meninggalkan keluarganya dalam duka.
"Dia tidak bilang apa-apa.
Suatu hari kami semua di rumah dan dia meminta pena dan kertas untuk menuliskan utang-utang kami.
Kami semua mengira dia bercanda dengan kami tapi dia serius, beberapa hari kemudian dia bunuh diri," putri Rohullah yang bernama Taiba mengatakan kepada DW.
Dana Moneter Internasional (IMF), memperkirakan ekonomi Afganistan akan terkontraksi hingga 30% tahun ini.
PDB Afganistan pada tahun 2020 hanya sekitar $20 miliar.
Dan menurut Bank Dunia, 43% darinya berasal dari bantuan luar negeri.
Sebelum diambil alih oleh Taliban, 75% pengeluaran publik negara ini berasal dari hibah bantuan asing.
Dalam beberapa bulan terakhir, pemerintah baru Taliban berjuang untuk membayar gaji pegawai negeri sementara harga pangan melonjak dan bank menghadapi krisis uang tunai.
Banyak orang Afganistan menjual harta benda untuk membeli makanan.
Namun buat Gul Ahmad, satu-satunya harta berharga yang tersisa adalah putri-putrinya, yang mungkin akan juga dijual seperti kakak mereka, Najeeba. (*)
Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Anak Perempuan Afganistan Mulai Dijual Keluarga untuk Bertahan Hidup
Baca juga: WAWANCARA Direktur Pencegahan BNPT : Berkuasanya Taliban Pengaruhi Gerakan Radikalisme di Indonesia
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/warga-afghanistan-jual-barang-barang-untuk-makan.jpg)