Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Semarang

Kisah Tradisi Gebyuran Bustaman Bertahan Sejak 281 Tahun Silam di Semarang Saat Menyambut Ramadan

Sambut bulan Ramadan, sedikitnya 500 orang warga Kampung Bustaman menyambut bulan Ramadan dengan tradisi Gebyuran Bustaman Minggu (19/3/2023).

Editor: raka f pujangga
KOMPAS.COM/Titis Anis Fauziyah
Warga Purwodinatan saling menggebyur satu sama lain dalam tradisi Gebyuran Bustaman jelang Ramadan, Minggu (19/3/2023). 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Sambut bulan Ramadan, sedikitnya 500 orang warga Kampung Bustaman menyambut bulan Ramadan dengan tradisi mandi bersama tahunan yang dikenal sebagai Gebyuran Bustaman, Minggu (19/3/2023).

Tak hanya warga Bustaman, tapi sejumlah warga dari kampung sekitar di wilayah Kecamatan Purwodinatan juga turut meramaikan adat tersebut.

Terlihat ratusan katong air berwarna warni sudah disiapkan warga dengan digantungkan di atas atap maupun diletakkan di ember masing-masing.

Baca juga: Apa Itu Gebyuran Bustaman? Tradisi Perang Air Jelang Puasa Ramadhan di Semarang

Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen membuka langsung tradisi itu di lokasi dengan memandikan lima anak kecil.

Yasin mengguyur setiap anak dengan gayung batok kelapa dan mengelus kepalanya.

“Ini kan sebagai wujud nguri-nguri tradisi Ulama Kiai Kertoboso Bustam atau Mbah Bustam yang berasal di daerah ini, dengan harapan pada awal bulan Ramadhan kita sudah bersih dan suci dengan ritual hari ini,” tutur Yasin, saat membuka acara.

Sebenernya, adat ini 281 tahun silam.

Akan tetapi adat kembali dilestarikan dan digelar setiap tahun sejak 2012.

Ini menjadi tahun ke-11 warga setempat merayakan Ramadhan dengan Gebyuran Bustaman.

“Biasanya memang diadakan pas akhir pekan sebelum Ramadhan supaya semua warga bisa ikut meramaikan,” tutur Amidin (43), salah satu warga yang juga panitia penyelenggara.

Warga dari 11 RT turut berkumpul di kampung tersebut.

Mulai dari anak-anak hingga lansia saling melempar air tanpa ada jarak diantara mereka.

Bahkan seorang Warga Negara Asing (WNA) terlihat ikut bergabung di sana.

Baca juga: Kebiasaan Kiai Kertoboso Bustam Mandikan Cucunya Jelang Ramadan Dipercaya Awal Tradisi Gebyuran

Seperti warga lokal lainnya, WNA tersebut tak ragu melempari orang sekitarnya dengan air.

Begitu pun warga setempat turut memandikannya.

Halaman
12
Sumber: Kompas.com
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved