Senin, 13 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Internasional

Ramai-Ramai Resign, Pegawai Profesional di China Lebih Pilih Jadi Pekerja Kasar

Di China, pekerja ramai-ramai mengundurkan diri atau resign dari perusahaan dan memilih untuk bekerja sebagai buruh lepas.

THINKSTOCKS/ASKOLD ROMANOV
Ilustrasi pekerja 

TRIBUNJATENG.COM - Di China, pekerja ramai-ramai mengundurkan diri atau resign dari perusahaan dan memilih untuk bekerja sebagai buruh lepas.

Leon Li (27) salah satunya.

Dia memilih menjadi pekerja lepas setelah memutuskan resign dari perusahaan teknologi terbesar di China.

Baca juga: Arkeolog Tak Berani Bongkar Makam Kaisar Pertama China, Ini Alasannya

Li dulunya bekerja sebagai petugas administrasi yang mengatur rapat, menyiapkan dokumen, dan memberikan apa yang dibutuhkan atasannya.

Namun, pada Februari 2024, Li memutuskan untuk keluar dari perusahaan tersebut.

Ia meninggalkan kariernya yang stabil dan gaji yang layak demi sesuatu yang tidak pernah ada di pikirannya, menjadi tukang bersih-bersih rumah.

Tren peralihan pekerja profesional itu muncul di tengah melonjaknya permintaan pekerja kasar dengan bayaran per jam.

Lantas, mengapa pekerja di China memilih untuk keluar dari perusahaan dan bekerja menjadi pekerja kasar?

Tekanan kerja yang berat

Li mengaku selalu melihat masa depan yang suram ketika masih bekerja sebagai karyawan di perusahaan terbesar di China.

"Setiap pagi ketika alarm berbunyi, yang dapat saya lihat hanyalah masa depan yang suram," kata Li, dikutip dari CNN.

Ia mengaku memilih meninggalkan pekerjaannya sebagai petugas administrasi karena tekanan berat yang dirasakannya.

Di sisi lain, perusahaan-perusahaan di China perlahan-lahan kehilangan daya tariknya karena ekonomi di negara tersebut menghadapi berbagai tantangan, seperti krisis properti, penurunan investasi asing, dan merosotnya konsumsi.

Menurut data terbaru dari Biro Statistik Nasional (NBS) yang dirilis pada Juni 2024, ekonomi China tumbuh 4,7 persen pada kuartal kedua 2024.

Angka itu tak sesuai ekspektasi para ekonom dan menandai pertumbuhan terlemah sejak kuartal pertama tahun lalu.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved