Jumat, 17 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Internasional

Korban Tewas Kerusuhan di Nepal Bertambah Jadi 51 Orang

Sejak dimulai pada Senin (8/9/2025), gelombang demo Nepal yang berujung ricuh telah menewaskan setidaknya 51 orang. 

Penulis: Sof | Editor: M Syofri Kurniawan
ISTIMEWA
ILUSTRASI JENAZAH: Sejak dimulai pada Senin (8/9/2025), gelombang demo Nepal yang berujung ricuh telah menewaskan setidaknya 51 orang. Pihak kepolisian menyampaikannya pada Jumat (12/9/2025). (ISTIMEWA) 

TRIBUNJATENG.COM, KATHMANDU - Sejak dimulai pada Senin (8/9/2025), gelombang demo Nepal yang berujung ricuh telah menewaskan setidaknya 51 orang. 

Pihak kepolisian menyampaikannya pada Jumat (12/9/2025).

Hal itu menggambarkan bagaimana kerusuhan di Nepal yang menggulingkan pemerintahan. 

Baca juga: 13.500 Tahanan Kabur dari Penjara saat Demonstrasi Berubah Jadi Kerusuhan di Nepal

Juru bicara polisi, Binod Ghimire, mengatakan kepada AFP bahwa korban tewas mencakup sedikitnya 21 demonstran dan tiga anggota polisi.

“51 orang telah meninggal selama pekan ini dalam protes, termasuk sedikitnya 21 demonstran dan tiga polisi,” ujar Ghimire seperti yang dilansir dari AFP pada Jumat (12/9/2025).

Sedangkan, juru bicara kepolisian Nepal Ramesh Thapa menyebutkan orang yang terluka akibat kerusuhan unjuk rasa di Nepal ada hampir 1.500 orang, dengan 1.000 di antaranya sudah menerima perawatan medis, sebagaimana yang dikutip dari Times of India, Sabtu (13/9/2025).

Kerusuhan di Nepal bermula Senin (8/9/2025) ketika demonstran protes menentang larangan media sosial.

Para demonstran juga menyuarakan kemarahan atas praktik korupsi dan buruknya tata kelola pemerintahan.

Ketika massa telah menduduki gedung parlemen Nepal, aparat keamanan memukul mundur mereka dengan tindakan kekerasan, seperti menggunakan meriam air, gas air mata, dan tembakan peluru tajam.

Situasi semakin memanas pada Selasa (9/9/2025) ketika demonstran membakar gedung parlemen.

Setelah kejadian itu, Perdana Menteri Khadga Prasad Sharma Oli mengumumkan pengunduran diri, dan disusul oleh Presiden Nepal Ram Chandra Poude beberapa jam kemudian.

Setelah pengunduran diri pejabat tinggi pemerintahan, militer Nepal mengambil alih.

Tentara berpatroli di jalanan dan memberlakukan jam malam untuk menekan eskalasi kerusuhan.

Militer juga melaporkan penemuan lebih dari 100 senjata yang dijarah selama kerusuhan.

Beberapa demonstran dilaporkan terlihat membawa senjata otomatis di jalanan.

Ribuan napi kabur

Kerusuhan besar akibat demo Nepal juga dimanfaatkan ribuan narapidana untuk melarikan diri.

Menurut Ghimire, total sekitar 13.500 tahanan kabur dari berbagai penjara di seluruh Nepal.

“Beberapa sudah ditangkap kembali, 12.533 masih buron,” jelasnya.

Sebagian narapidana tewas dalam bentrokan dengan pasukan keamanan, sementara puluhan lainnya ditangkap kembali saat mencoba melarikan diri ke India.

Di tengah situasi yang masih tegang, perundingan terus berlangsung antara Presiden Ram Chandra Paudel, perwakilan demonstran, tokoh yang berpotensi memimpin pemerintahan sementara, serta pihak militer.

Menteri Keuangan dikejar dan ditendang

Selasa (9/9/2025), demonstrasi besar-besaran terjadi di ibu kota Nepal, Katmandu.

Aksi berujung rusuh dan menelan korban dari kalangan pejabat tinggi.

Menteri Keuangan Nepal, Bisnu Prasad Paudel, dilaporkan turut menjadi sasaran amukan massa.

MENKEU NEPAL DITENDANG - Tangkap layar video detik-detik Menteri Keuangan Nepal, Bisnu Prasad Paudel, dikejar hingga ditendang demonstran. (SURYA/ISTIMEWA)
MENKEU NEPAL DITENDANG - Tangkap layar video detik-detik Menteri Keuangan Nepal, Bisnu Prasad Paudel, dikejar hingga ditendang demonstran. (SURYA/ISTIMEWA) (SURYA/ISTIMEWA)

Dalam sebuah rekaman video yang dilansir dari Youtube Tribun Network, terlihat seorang pria dikejar oleh demonstran sebelum akhirnya berhasil diselamatkan oleh sekelompok orang di lokasi. 

Meski wajah dalam rekaman tidak terlihat jelas, sejumlah saksi mata menyebut bahwa sosok tersebut adalah Menteri Paudel.

Kerusuhan di Katmandu disebut dimotori oleh kelompok demonstran bernama Genzet.

Mereka tidak hanya menyerang sejumlah tokoh politik, tetapi juga mengincar kediaman Perdana Menteri KP Sharma Oli serta Presiden Ramandra Paudel.

Situasi politik Nepal semakin memanas setelah Presiden Ramandra Paudel menerima pengunduran diri dari PM KP Sharma Oli.

Proses penentuan pengganti perdana menteri pun telah dimulai.

Amukan massa juga merambah ke fasilitas negara.

Gedung parlemen dan Mahkamah Agung di Katmandu dilaporkan dibakar demonstran.

Hingga kini, aparat keamanan dikerahkan untuk mengendalikan keadaan, sementara kondisi di ibu kota masih mencekam.

Rumah Dibakar Demonstran, Istri Mantan PM Nepal Tewas

Sementara, istri mantan PM Jhalanath Khanal, Rajyalaxmi Chitrakar, meninggal dunia setelah rumahnya dibakar demonstran di Kathmandu pada Selasa (9/9/2025).

Chitrakar sempat dilarikan ke Rumah Sakit Kirtipur dalam kondisi kritis, demikian dilaporkan media lokal Khabarhub.

Ia menderita luka bakar parah di beberapa bagian tubuh, termasuk paru-paru, namun nyawanya tidak tertolong selama perawatan.

Insiden tragis ini terjadi di tengah gelombang protes besar-besaran yang digerakkan oleh generasi muda Nepal sejak Senin.

Aksi protes dipicu oleh isu korupsi, pengangguran, serta larangan pemerintah terhadap platform media sosial, termasuk Facebook dan X.

Kerusuhan meluas hingga ke pusat pemerintahan.

Gedung Parlemen di Kathmandu turut dibakar, dan video peristiwa itu menjadi viral.

Ada pula laporan bahwa Menteri Keuangan Bishnu Paudel dipukuli massa, meski keaslian rekaman tersebut belum dapat diverifikasi secara independen oleh Hindustan Times.

Di tengah eskalasi, Perdana Menteri KP Oli mengumumkan pengunduran dirinya pada Selasa.

Presiden Ram Chandra Paudel kemudian menyerukan kepada para demonstran untuk menempuh dialog agar krisis tidak semakin memburuk.

“Mari mencari jalan damai dan menghindari eskalasi lebih lanjut,” ujarnya dalam pernyataan resmi.

Situasi yang kian panas juga membuat Bandara Kathmandu ditutup.

Pemerintah India mengeluarkan imbauan agar warganya di Nepal tetap berlindung di tempat tinggal masing-masing serta mengikuti arahan keselamatan dari otoritas Nepal maupun Kedutaan Besar India di Kathmandu.

Gelombang protes ini terjadi lebih dari satu dekade setelah Jhalanath Khanal, yang pernah menjabat perdana menteri, mengundurkan diri pada 2011.

Kala itu, Khanal menyerahkan surat pengunduran diri setelah Partai Komunis Nepal (Marxis Leninis Bersatu) menyetujui keputusannya mundur dari jabatan. (*)

 

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Korban Kerusuhan di Nepal: 51 Orang Tewas dan 1.000 Orang Lebih Luka"

Baca juga: 6 Pemicu Demo Nepal hingga Perdana Menteri Undur Diri 

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved