Jumat, 10 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Internasional

Korban Tewas Kerusuhan di Nepal Bertambah Jadi 51 Orang

Sejak dimulai pada Senin (8/9/2025), gelombang demo Nepal yang berujung ricuh telah menewaskan setidaknya 51 orang. 

Penulis: Sof | Editor: M Syofri Kurniawan
ISTIMEWA
ILUSTRASI JENAZAH: Sejak dimulai pada Senin (8/9/2025), gelombang demo Nepal yang berujung ricuh telah menewaskan setidaknya 51 orang. Pihak kepolisian menyampaikannya pada Jumat (12/9/2025). (ISTIMEWA) 

TRIBUNJATENG.COM, KATHMANDU - Sejak dimulai pada Senin (8/9/2025), gelombang demo Nepal yang berujung ricuh telah menewaskan setidaknya 51 orang. 

Pihak kepolisian menyampaikannya pada Jumat (12/9/2025).

Hal itu menggambarkan bagaimana kerusuhan di Nepal yang menggulingkan pemerintahan. 

Baca juga: 13.500 Tahanan Kabur dari Penjara saat Demonstrasi Berubah Jadi Kerusuhan di Nepal

Juru bicara polisi, Binod Ghimire, mengatakan kepada AFP bahwa korban tewas mencakup sedikitnya 21 demonstran dan tiga anggota polisi.

“51 orang telah meninggal selama pekan ini dalam protes, termasuk sedikitnya 21 demonstran dan tiga polisi,” ujar Ghimire seperti yang dilansir dari AFP pada Jumat (12/9/2025).

Sedangkan, juru bicara kepolisian Nepal Ramesh Thapa menyebutkan orang yang terluka akibat kerusuhan unjuk rasa di Nepal ada hampir 1.500 orang, dengan 1.000 di antaranya sudah menerima perawatan medis, sebagaimana yang dikutip dari Times of India, Sabtu (13/9/2025).

Kerusuhan di Nepal bermula Senin (8/9/2025) ketika demonstran protes menentang larangan media sosial.

Para demonstran juga menyuarakan kemarahan atas praktik korupsi dan buruknya tata kelola pemerintahan.

Ketika massa telah menduduki gedung parlemen Nepal, aparat keamanan memukul mundur mereka dengan tindakan kekerasan, seperti menggunakan meriam air, gas air mata, dan tembakan peluru tajam.

Situasi semakin memanas pada Selasa (9/9/2025) ketika demonstran membakar gedung parlemen.

Setelah kejadian itu, Perdana Menteri Khadga Prasad Sharma Oli mengumumkan pengunduran diri, dan disusul oleh Presiden Nepal Ram Chandra Poude beberapa jam kemudian.

Setelah pengunduran diri pejabat tinggi pemerintahan, militer Nepal mengambil alih.

Tentara berpatroli di jalanan dan memberlakukan jam malam untuk menekan eskalasi kerusuhan.

Militer juga melaporkan penemuan lebih dari 100 senjata yang dijarah selama kerusuhan.

Beberapa demonstran dilaporkan terlihat membawa senjata otomatis di jalanan.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved