Tribunjateng Hari ini
Hadi Sebut Hanya Perlu Satu Detik untuk Serving dan Plating Menu MBG
Proses memasak, menata, sekaligus mendistribusikan MBG dari dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Gunungpati, Kota Semarang.
Penulis: Achiar M Permana | Editor: M Syofri Kurniawan
“Kalau bahan tidak sesuai standar, misal kualitas sayur menurun atau berat tidak sesuai, sistem langsung menolak. Jadi semua bahan yang masuk sudah tervalidasi,” ungkapnya.
Setelah bahan masuk nantinya semua akan dicuci bersih sebelum masuk ke gudang penyimpanan atau chiller kulkas berukuran besar.
Sebelum bahan diolah, dapur tersebut juga memiliki tim ahli gizi yang menyusun menu bergizi seimbang setiap minggunya.
Sehingga tiap harinya menu yang diberikan bervariasi.
Menu disesuaikan dengan kebutuhan energi anak-anak usia sekolah, dengan memperhatikan kandungan protein, karbohidrat, vitamin, dan mineral.
Pengolahan tak menggunakan wajan, namun menggunakan tilting pan, agar kematangan dari lauk yang disajikan lebih merata dan tidak over cook.
Sebelum disajikan kepada anak-anak, ahli gizi bertugas menjadi tester terlebih dahulu.
“Setiap hari menu berbeda. Misalnya hari ini nasi, ayam suwir, salad sayur dan buahnya semangka. Besok bisa ganti lagi seperti spaghetti, ayam bolognese, dan pisang. Prinsipnya anak-anak harus dapat gizi lengkap tanpa merasa bosan,” ujar Hadi.
Proses memasak di dapur dilakukan oleh ibu-ibu warga sekitar tentunya kehadiran dapur ini membuka peluang kerja bagi warga setempat.
Mereka bekerja dalam tim, masing-masing bertanggung jawab di bagian bahan sayuran, bahan hewani, masak, pengemasan dan pembersihan.
Setelah matang, makanan segera dikemas dalam ompreng yang sudah dicuci bersih dan didistribusikan ke sekolah-sekolah di wilayah Semarang radius keliling 5 kilometer dari jarak dapur.
“Semua dimasak fresh, kami nggak berani kalau jarak masaknya dan distribusinya terlalu jauh. Jadi kami masak dengan fresh. Untuk menunjang itu kami gunakan fasilitas yang memadai,” ujarnya.
Kantongi SLHS
Yayasan Bina Bangsa mengoperasikan lebih dari satu dapur bersertifikat laik higiene sanitasi (SLHS) tiap dapur setidaknya memproduksi 4-ribuan porsi MBG.
“Kalau kewalahan tentu tidak, semua sudah terukur dari gizi dan rasanya. Kecepatan kami cuma sekitar 1 detik untuk serving dan plating. Berarti, saya cuma butuh 4.000 detik (untuk menyelesaikan),” tuturnya.
| Longsor Hantam Tiga Rumah di Sangkanayu Purbalingga, Yanti Tertimpa Batu saat Masak di Dapur |
|
|---|
| Pita-pita Warna Merah Muda Hiasi Lokasi Penyiraman Air Keras terhadap Andrie Yunus |
|
|---|
| Mailani Pertahankan Olahan Tradisional Es Krim Karimata, Eksis Sejak 1980-an, Dilakoni Tiga Generasi |
|
|---|
| Wonderful Sunset Run Tawarkan Ajang Lari Sore di Pesisir POJ City Semarang |
|
|---|
| Keren, Dinding Kreasimu Jadi Spot Favorit Pengunjung Museum Semedo |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/Jateng-Hari-Ini-Rabu-29-Oktober-2025.jpg)