Minggu, 14 Juni 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Semarang

Waspada Nyamuk 'Lebih Ganas' di Musim Panas Semarang, Risiko DBD Naik

Cuaca panas ekstrem yang terjadi di Kota Semarang belakangan dikhawatirkan mengganggu kesehatan.

Tayang:
Penulis: Idayatul Rohmah | Editor: raka f pujangga
Tribun Jateng/Idayatul Rohmah
CUACA PANAS EKSTREM - Suasana kawasan jalan Pahlawan, Kota Semarang, Jawa Tengah. 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Cuaca panas ekstrem yang terjadi di Kota Semarang belakangan dikhawatirkan mengganggu kesehatan.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang, dr M Abdul Hakam mengimbau masyarakat untuk tetap waspada dan menjaga kesehatan.

Menurut Hakam, suhu panas di Semarang yang kini mencapai 35-36 derajat Celsius merupakan kondisi yang jauh berbeda dibandingkan lima hingga sepuluh tahun lalu.

Baca juga: DPRD Dorong Percepatan Bus Listrik dan Pembenahan Sistem Parkir Kota Semarang

"Dulu saja mungkin ketika 10 tahun yang lalu, suhu 26-27 derajat celcius itu sudah panas. Nah, ini sekarang 36-37 atau 35-36 pastinya kami yang di sisi kesehatan harus melakukan mitigasi terhadap apa-apa yang kemudian bisa terjadi ketika suhu itu tinggi," terang Hakam, Kamis (16/10/2025).

Fenomena cuaca panas disertai kelembaban tinggi ini, menurutnya berdampak langsung pada meningkatnya berbagai jenis penyakit.

Dinas Kesehatan mencatat sejumlah gangguan kesehatan yang kerap muncul, di antaranya dehidrasi, stroke akibat suhu tubuh yang terlalu tinggi, gangguan pernapasan seperti ISPA hingga pneumonia, serta masalah mental.

Hakam menjelaskan, suhu ekstrem dapat memicu stres, kecemasan, dan gangguan mental, terutama pada kelompok rentan.

Kondisi kulit juga bisa terdampak karena keringat berlebih dan pertumbuhan jamur yang berkembang di lingkungan lembap.

Selain itu, penyakit kardiovaskular juga meningkat.

Menurutnya, banyak pasien dengan hipertensi atau diabetes yang masuk rumah sakit akibat tekanan darah melonjak atau kadar gula darah yang tinggi, hingga memicu kondisi darurat seperti ketoasidosis diabetik.

Penyakit infeksi juga menjadi perhatian, terutama demam berdarah dengue (DBD) dan leptospirosis.

Hakam menyebut, meski jumlah nyamuk lebih sedikit di musim panas dibanding musim hujan, daya gigit dan jumlah virus yang dibawa nyamuk justru lebih tinggi.

"Ketika suhu tinggi, kelembaban tinggi, yang terjadi adalah memang jumlah nyamuknya mungkin tidak sebanyak yang pada saat hujan. Tapi nyamuk itu-itu sekali gigit itu daya sedotnya lebih kencang. Ini yang terjadi pada musim panas.

Sehingga risiko menggigit dan kemudian virus yang ada di dalam mulutnya itu mengandung virus dengue, resikonya pasti akan lebih berat ketika akan terkena demam berdarah," terangnya.

Hakam lebih lanjut menekankan, kelompok rentan yang harus mendapat perhatian khusus, seperti anak-anak, ibu hamil, lansia, serta warga dengan penyakit penyerta.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup B - Matchday 1
Minggu, 14 Juni 2026 | 02:00 WIB
Qatar
Qatar
1 - 1
Switzerland
Swiss
Grup C - Matchday 1
Minggu, 14 Juni 2026 | 05:00 WIB
Brazil
Brasil
1 - 1
Morocco
Maroko
Grup C - Matchday 1
Minggu, 14 Juni 2026 | 08:00 WIB
Haiti
Haiti
0 - 1
Scotland
Skotlandia
Grup D - Matchday 1
Minggu, 14 Juni 2026 | 11:00 WIB
Australia
Australia
2 - 0
Turkiye
Turki
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
Memuat video…
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved