Kudeta Militer Myanmar
Kejamnya Junta Militer Myanmar, Tak Segan Tembak Wajah Warga Sipil, Tercatat 231 Demonstran Tewas
231 orang pengunjuk rasa sudah dinyatakan tewas akibat aksi protes anti Kudeta Militer di Nyanmar.
TRIBUNJATENG.COM, MYANMAR - 231 orang pengunjuk rasa sudah dinyatakan tewas akibat aksi protes anti Kudeta Militer di Nyanmar.
Data tersebut terkumpul per Jumat (19/4/2021).
Aksi kudeta sendiri terjadi pada 1 Februari 2021 lalu, sehingga belum ada satu bulan.
Melansir The Irrawaddy pada Jumat (19/3/2021), setidaknya ada 11 orang yang dibunuh oleh junta militer di negara bagian Shan selatan, Yangon, dan Mandalay.
Baca juga: Jokowi Desak Pertemuan Tingkat Tinggi ASEAN untuk Hentikan Kekerasan di Myanmar
Baca juga: 8 Demonstran Lagi Tewas Ditembak, Situasi di Myanmar Terus Mencekam
Baca juga: Paus Fransiskus Siap Berlutut demi Hentikan Kekerasan di Myanmar
Baca juga: Demonstran Myanmar Lawan Balik Junta Militer, Bom Molotov dan Ketapel Jadi Senjata
Jumlah itu diperkirakan akan terus meninigkat karena banyak korban lainnya yang mengalami luka parah karena tindakan keras junta militer dalam aksi protes massa pro-demokrasi.
Di Aungban yang letaknya di selatan negara bagian Shan, setidaknya ada 8 orang ditembak mati, ketika para tentara dan polisi melepaskan tembakan langsung ke kerumunan massa yang memprotes kudeta.
Sejumlah demonstran juga mengalami luka parah selama penembakan berlangsung.
Tembakan dimulai pukul 09.00 waktu setempaat pada Jumat (19/3/2021) dan tidak berhenti hingga malam.
Orang-orang berpakaian preman termasuk di antara pasukan keamanan yang menembakki massa, menurut laporan penduduk setempat.
Seorang pria ada yang ditembak di kepala diseret oleh tentara dan polisi, sebelum dia dapat diidentifikasi oleh peserta protes lainnya. Hanya meninggalkan jejak darah di jalan.
Sekitar 20 pengunjuk rasa ditangkap dan banyak dari mereka terluka.
Di ibu kota negara bagian Kayah, seorang bidan 47 tahun, U Shan Pu ditembak dengan peluru tajam dalam tindakan keras terhadap massa anti-kudeta oleh tentara dan polisi Myanmar.
Menurut seorang pekerja sosial yang berbasis di Loikaw, bidan tersebut adalah korban meninggal terakhir pada jam 14.00 waktu setempat. Beberapa pengunjuk rasa ditangkap.
Seorang pria berusia 27 tahun, Aung Ko Ko Khant dari Myingyan di wilayah Mandalay juga meninggal, pada Jumat pagi waktu setempat.
Ia meninggal setelah wajahnya ditembak pada 15 Maret oleh aparat keamanan Myanmar.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/polisi-myanmar-memegangi-pengunjuk-rasa-bersiap-memukuli-dalam-insiden-di-tharkata.jpg)