Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Opini

Opini Mahendra: Merumuskan Upah Minimum Petani

KONFERENSI Tingkat Tinggi (KTT) G20 yang lalu telah menghasilkan Deklarasi Pemimpin G20 Bali yang berisi 52 poin kesepakatan. Keseluruhan mengenai kom

Editor: m nur huda
Tribun Jateng
Opini Ditulis Oleh Opik Mahendra, SP, MSc. (Alumni Sekolah Pascasarjana UGM) 

Pengangguran di Desa

Menurut Data BPS (2020), tingkat pengangguran di desa pada angka 4,04 persen atau naik dari posisi yang sama tahun lalu 4,01 persen. Kenaikan tingkat pengangguran di desa meningkat lantaran jumlah pekerja sektor pertanian yang juga menyusut.

BPS melansir, pekerja di sektor pertanian tercatat 35,7 juta orang atau 28,79 persen dari jumlah penduduk bekerja 124,01 juta jiwa. Sementara di tahun lalu, jumlah pekerja sektor pertanian di angka 35,9 juta orang atau 29,68 persen dari jumlah penduduk bekerja 121,02 juta orang.

Sebuah kondisi yang dianggap wajar. Sebab, pekerja sektor pertanian ingin mencari penghidupan yang lebih layak sehingga memutuskan untuk berhenti bertani. Namun, ada yang berhasil mendapatkan pekerjaan baru, tapi ada pula yang masih menjadi pengangguran.

Menurut hasil kajian global World Economic Forum (WEF) Tahun 2010 menunjukkan pertanian selain sebagai penyedia pangan, merupakan sektor yang berkontribusi menyediakan 40 persen lapangan pekerjaan. Dalam laporan Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) BPS yang dilaksanakan pada Agustus 2016 menyebutkan 37,8 juta orang bekerja pada sektor pertanian.

Jumlah itu terdiri dari berbagai tingkatan status pekerjaan seperti, berusaha sendiri, buruh, pekerja bebas pertanian, pengusaha pertanian, dan status lainnya dalam sektor ini. Dari sisi kontribusi, sektor pertanian menyumbang 14 persen Produk Domestik Bruto (PDB) pada tahun 2017, nomor dua terbesar setelah sektor industri pengolahan sebesar 21,3 persen.

Lulusan SD

Sektor pertanian terbanyak diisi oleh pekerja dari lulusan SD yakni 39,4 persen, kemudian tidak tamat SD 30 persen, lulusan SMP 16,6 persen, lulusan SMA/SMK 12.8 persen, sisanya lulusan perguruan tinggi (lulusan D1,D2,D3, dan Universitas) sebanyak 1,3 persen.Diperlukan perubahan paradigma agar stigma profesi petani berubah menjadi baik dan modern khususnya di mata generasi muda.

Salah satu pendekatannya yaitu melalui pendekatan pendidikan dan kebudayaan. Selama ini minat generasi muda tidak tertarik dengan usaha pertanian pangan dengan alasan tak menjanjikan kehidupan yang lebih baik.

Faktanya, petani rata-rata berusia 45 tahun ke atas. Sementara yang muda disibukkan dengan gadget. Kondisi tersebut semakin memperhatikan, ketika para petani memutuskan menjual sebagian lahan pertaniannya untuk membiayai kebutuhan sekolah atau kuliah anaknya. Sayangnya, pendidikan yang ditempuh tidak diarahkan pada keilmuan yang berkaitan dengan pertanian.

Faktor produksi tenaga kerja merupakan faktor produksi yang penting dan perlu diperhatikan dalam proses produksi dalam jumlah yang cukup bukan saja terlihat dari tersedianya tenaga kerja, tetapi juga kualitas dan macam tenaga kerja perlu diperhatikan. Selanjutnya dikatakan bahwa setiap produksi diperlukan tenaga kerja yang memadai, jumlah tenaga kerja yang diperlukan perlu disesuaikan dengan kebutuhan sampai dengan tingkat tertentu sehingga jumlahnya optimal.

Orientasi Kesejahteraan

Banyak faktor yang menyebabkan persepsi masyarakat tentang profesi petani identik dengan pekerjaan rendahan, kotor, tidak membanggakan, penghasilannya tidak menentu. Sehingga definisi profesi disempitkan hanya apabila seseorang itu bekerja di tempat tertentu dan posisi tertentu serta dengan gaji tertentu pula seperti bekerja di pabrik, bagian pemasaran, menjadi PNS atau perkantoran.

Menurut Mardikanto (2007) dalam setiap proses pembangunan pertanian, kehadiran petani senantiasa memainkan peran ganda, baik sebagai juru tani, pengelola usaha tani maupun sebagai manusia yang merupakan anggota dari keluarga dan sistem sosial masyarakatnya .Salah satu caranya dengan menyesuaikan gaya pertanian dengan perkembangan teknologi serta tren terkini di Indonesia. Pendekatan yang berbeda harus mulai dilakukan, melihat zaman beserta pelakunya sudah banyak berubah.

Masyarakat petani umumnya dicirikan dengan tingkat solidaritas yang tinggi dan dengan suatu sistem nilai yang menekankan tolong menolong, dan pemilikan bersama sumberdaya. Ciri-ciri masyarakat modern ditandai dengan adanya kesediaan menerima pengalaman-pengalaman baru dan terbuka terhadap pembaharuan dan perubahan yang terjadi.

Halaman
123
Sumber: Tribun Jateng
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved