Opini
Opini Mahendra: Merumuskan Upah Minimum Petani
KONFERENSI Tingkat Tinggi (KTT) G20 yang lalu telah menghasilkan Deklarasi Pemimpin G20 Bali yang berisi 52 poin kesepakatan. Keseluruhan mengenai kom
Petani yang semula hidup dalam orientasi budaya agraris yang cenderung mendekati ciri-ciri masyarakat tradisional, yang kemudian harus dihadapkan pada pilihan pekerjaan baru di bidang industri, harus mengadopsi perilaku-perilaku baru yang cenderung mendekati ciri-ciri masyarakat modern. Hal ini merupakan suatu proses perubahan perilaku yang biasanya perubahan perilaku. Perubahan paradigma pertanian yang tradisional menuju modern harus terus dilakukan.
Keberpihakan
Menurut Scott (1993) mengemukakan bahwa untuk menyelamatkan diri dari struktur kehidupan mereka, masyarakat petani pedesaan menjalani gaya hidup gotong royong, tolong menolong, dan melihat sejumlah persoalan yang dihadapi sebagai persoalan kolektif serta pembagian hasil sama rata.
Sekolah dan Perguruan tinggi, terutama di bidang pertanian, diharapkan mampu menjadikan petani sebagai profesi modern. Hal itu akan menjadikan sektor pertanian semakin diminati anak-anak muda sehingga menjamin ketahanan pangan. Inovasi teknologi perlu terus dilakukan untuk mencapainya.
Kebijakan pemerintah juga harus didorong untuk mengutamakan keberpihakan kepada petani ini dicirikan dengan penggunaan alat dan mesin pertanian (alsintan) secara masif, mulai dari pengolahan lahan sampai dengan tahap panen dan pasca-panen. Dengan demikian, kegiatan usaha pertanian berubah dari sistem tradisional menuju modernisasi pertanian.
Modernisai pertanian juga dapat mendorong minat masyarakat khususnya generasi muda terhadap dunia pertanian Modernisasi pertanian melalui penggunaan alsintan dari aspek ekonomi secara signifikan terbukti mampu meningkatkan produktivitas komoditas pangan dan pendapatan keluarga petani. Dengan begitu, proses produksi bisa lebih efisien. Melalui penggunaan alsintan pada setiap tahap kegiatan produksi, panen dan pasca-panen mampu menghemat biaya pengolahan tanah, biaya tanam, biaya penyiangan, dan biaya panen.
Akhirnya, profesi petani dapat dimaknai sebagai sebuah panggilan jiwa, sebuah tanggung jawab moral yang harus diemban oleh generasi penerus pembangunan, dan perlu pula dibangun bahwa profesi petani juga dapat dilihat dari perspektif rasional (structural base) bahwa bekerja di bidang pertanian dipahami sebagai sebuah pilihan didasarkan pada seberapa besar pilihan tersebut memberikan keuntungan-keuntungan baik secara ekonomi, sosial, maupun lingkungan. (*tribun jateng cetak)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.