Opini
MBG: Menuju Generasi Emas atau Generasi Patah Hati?
“Aku generasi yang patah hati, terlahir dengan kondisi dunia yang seperti ini.”
Penulis: Adi Tri | Editor: abduh imanulhaq
Pertama terapkan Both/And Thinking. Masyarakat harus bisa memadukan dua sikap: mendukung ide pemenuhan gizi anak bangsa, sekaligus mengkritisi pelaksanaannya. Masyarakat perlu mengedepankan sikap berpikir kritis tanpa terjebak pada polarisasi. Mendukung tujuan program tidak berarti menutup mata terhadap kelemahannya.
Kedua lakukan Follow the Money. Masyarakat perlu aktif mengawasi penggunaan anggaran, termasuk di tingkat daerah dan satuan pendidikan. Transparansi terkait mitra, harga, dan kualitas makanan harus menjadi tuntutan bersama.
Ketiga tuntut bukti, bukan narasi (Demand Evidence). Masyarakat harus mendorong penggunaan data dan bukti dalam evaluasi program. Keberhasilan tidak cukup dinarasikan, tetapi harus dibuktikan melalui indikator yang terukur, seperti penurunan angka stunting dan peningkatan kualitas kesehatan anak.
Makan Bergizi Gratis adalah pertaruhan besar bagi masa depan bangsa. Jika dikelola dengan baik, program ini dapat menjadi fondasi bagi terwujudnya Generasi Emas 2045. Namun, jika diabaikan tata kelolanya, bukan tidak mungkin program ini justru melahirkan generasi yang kecewa—generasi yang patah hati terhadap janji negaranya sendiri. (*)
opini harkat negeri
Universitas Harkat Negeri Tegal
Universitas Harkat Negeri
Tribunjateng.com
aditri
| Bukan Sekadar Dokumen: Mengawal Renstra Publik dengan Kepemimpinan Adaptif |
|
|---|
| Waisak, Cahaya Kesempurnaan Prajna dan Maitri |
|
|---|
| Antara Reputasi dan Keadilan: Menuntaskan Dilema Penanganan Kekerasan Seksual di Kampus |
|
|---|
| Paradoks Kurs: Membalik Pelemahan Rupiah Menjadi Lompatan Ekonomi RI |
|
|---|
| Critical Literacy dan Paradox di Kalangan Digital Native |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/20260409_Aryanto-Ketua-Program-Studi-S1-Akuntansi-Universitas-Harkat-Negeri.jpg)