Opini
Tidur di Jam Kerja atau Kerja di Jam Tidur? Paradoks Profesionalisme Modern
Tidur di Jam Kerja atau Kerja di Jam Tidur? Paradoks Profesionalisme Modern
Penulis: Adi Tri | Editor: abduh imanulhaq
Hal ini memicu erosi kepercayaan di dalam tim karena anggota tim akan merasa waktu istirahat mereka tidak dihargai, sementara mereka tidak mendapatkan dukungan atau respons yang memadai saat jam kerja efektif sedang berjalan.
Budaya “pura-pura sibuk” di jam yang salah ini pada akhirnya menciptakan tekanan yang tidak sehat dan menurunkan kualitas pengambilan keputusan di jam-jam krusial. Pegawai yang tidak memiliki batas waktu yang jelas antara kehidupan pribadi dan pekerjaan cenderung lebih cepat mengalami kejenuhan atau burnout.
Beberapa negara maju kini mulai dengan tegas menerapkan regulasi mengenai hak untuk memutus sambungan atau Right to Disconnect demi melindungi integritas waktu manusia..
Pada akhirnya, kita harus menyadari bahwa menjadi profesional sejati bukan berarti harus merelakan diri untuk tersedia dan siap siaga selama dua puluh empat jam penuh tanpa henti. Profesionalisme yang benar dan berkelas justru terletak pada kemampuan seseorang untuk bekerja secara efektif, berpikir tajam, dan bersikap responsif pada jam-jam yang telah disepakati bersama dalam koridor profesional.
Sudah saatnya bagi para pemilik perusahaan, pemimpin organisasi, dan manajer sumber daya manusia untuk melakukan audit budaya kerja secara menyeluruh. Kita perlu menghentikan normalisasi terhadap budaya siaga malam dan instruksi akhir pekan yang tidak perlu.
Kita perlu mengembalikan fungsi waktu secara proporsional, yaitu memberikan hak bagi setiap jiwa untuk tidur di jam tidur agar mereka memiliki kapasitas penuh untuk bekerja dengan kesadaran dan energi maksimal di jam kerja. Karena bagaimanapun juga, produktivitas yang sejati tidak akan pernah diukur dari seberapa larut pesan singkat Anda terkirim ke grup kantor, melainkan dari seberapa berkualitas dan bermakna hasil kerja yang Anda berikan saat dunia sedang terjaga dan menanti kontribusi terbaik Anda. (*)
opini harkat negeri
Universitas Harkat Negeri
Universitas Harkat Negeri Tegal
Tribunjateng.com
aditri
| MBG: Menuju Generasi Emas atau Generasi Patah Hati? |
|
|---|
| Bukan Sekadar Dokumen: Mengawal Renstra Publik dengan Kepemimpinan Adaptif |
|
|---|
| Waisak, Cahaya Kesempurnaan Prajna dan Maitri |
|
|---|
| Antara Reputasi dan Keadilan: Menuntaskan Dilema Penanganan Kekerasan Seksual di Kampus |
|
|---|
| Paradoks Kurs: Membalik Pelemahan Rupiah Menjadi Lompatan Ekonomi RI |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/20251208_Arief-Zul.jpg)